Warung Bebas

Senin, 11 Juni 2012

Perjalanan Karir Sang Kapolres Adji Wibowo

Nazirwan Adji Wibowo resmi menjabat sebagai Kapolres Karanganyar sejak bulan November silam. Pria Berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) itu menggantikan pejabat lama, yakni AKBP Suroso.


Selama memimpin kepolisian Karanganyar, banyak gagasan yang telah ia terapkan. Salah satunya gerakan polisi berhati nurani. Selain itu, Adji pun mewajibkan anggotanya untuk menyematkan PIN anti-KKN di pakaian dinas setiap hari. Ditemui di rumah dinasnya beberapa waktu lalu, lulusan Akademi Kepolisian tahun 1994 tersebut bercerita banyak, termasuk hal yang melatarbelakangi dirinya menjadi seorang polisi.

Adji lahir dan besar di lingkungan keluarga militer. Itulah yang membuat dirinya terbiasa dengan didikan kedisiplinan dari ayah yang tentara. "Sejak kecil kami sekeluarga mendapat didikan yang cukup keras dari orang tua, terutama ayah. Kami tinggal di asrama militer," ujarnya mengawali perbincangan. Adji mengaku kerap mendapat hukuman dari ayahnya akibat sering berbuat nakal, layaknya anak sepantarannya. "Saat itu saya suka berkelahi. Apalagi saya ikut olahraga bela diri. Ayah yang mengetahui hal itu langsung menghukum saya," katanya sambil tertawa.

Pria yang dikenal dekat dengan para wartawan ini menuturkan, selepas dari SMA Negeri 1 Denpasar, ia mendaftar ke Akademi Militer dan dinyatakan diterima. Yang cukup unik, saat ujian tertulis pilihan utamanya adalah Angkatan Udara, sedangkan kepolisian adalah pilihan terakhir. "Awalnya saya tidak suka menjadi polisi. Tetapi pada saat seleksi, ternyata nilai saya unggul di pendidikan kepolisian. Akhirnya saya putuskan mengikuti pendidikan polisi," terangnya.

Setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun. Adji dilantik menjadi perwira. Ia juga tercatat sebagai peraih ranking tujuh lulusan terbaik di angkatannya. "Karena masuk sepuluh besar, kami diberikan kebebasan untuk memilih tempat tugas. Saya pilih Jawa Timur. Kenapa saya memilih daerah tersebut? Sebab, tantangan di Jawa Timur lebih besar. Tahun 1995 saya pertama kali tugas sebagai Serse di Polres Tuban," lanjutnya.

Tak berselang lama, Adji dipromosikan menjabat Kasat Serse Polres Lumajang. Pada tahun 1999, Adji ditarik ke Akpol sebagai Komandan Kompi dan Komandan Pleton para taruna. Tiga tahun setelah itu, ia mengikuti pendidikan lanjutan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta. Selepas dari PTIK ia pun mengikuti pendidikan di Jepang dan Italia, sebelum akhirnya belajar lagi di Sekolah Staff dan Pimpinan Kepolisian (Sespimpol). Karirnya terus menanjak hingga bulan November 2011, suami dari Nur Efrida ini diberi amanat sebagai Kapolres Karanganyar.

"Saya hanya ingin memberikan yang terbaik bagi institusi Polri. Polisi tidaklah seburuk seperti yang diduga selama ini. Tugas kami adalah melindungi dan mengayomi masyarakat," katanya.

Buku Terbaik Yang Layak Dibaca

Suatu hari seorang teman bertanya kepada saya melalui pesan singkat: "Buku apa yang bagus untuk dibaca dan bermanfaat?" Saya berpikir cukup lama untuk menjawab pertanyaan ini. Pikiran saya melayang ke deretan buku - buku yang ada di ruang perpustakaan mini di rumah saya.


Saya mencoba memikirkan buku - buku yang pernah saya baca dan menjadi koleksi terbaik di dalam ruangan kecil tempat harta ilmu pengetahuan saya tersimpan. Pikiran saya menari - nari di antara sederetan buku - buku bagus mulai dari tulisan Stephen Covey, Jack Canfield, Robin Sharma, John Maxwell, Napoleon Hill, Dale Carnegie, hingga buku - buku spiritual karya Anthony de Mello, Eknath Easwaran, Dalai Lama, Deepak Chopra dan Ajahn Brahm. Tidak ketinggalan juga buku - buku karya penulis nasional, seperti Jakob Oetama, Ir Ciputra, hingga Tung Desem Waringin.

Akhirnya saya menjawab singkat: "Buku yang terbaik adalah buku yang mengubahkan hidup kita". Ya, seringkali kita membaca buku bagus, best seller karya penulis terkenal, namun apa yang kita baca itu hanya berhenti di kepala. Menjadi sebatas pengetahuan saja. Maka apa yang sudah kita baca tersebut tidak banyak gunanya, selain memenuhi memori kepala kita.

Pengetahuan yang tidak diamalkan tidak ada manfaatnya. Kalimat ini mengandung arti, bahwa apapun yang menjadi pengetahuan sebaiknya bisa dipraktekkan atau diterapkan dalam kehidupan. Penulis - penulis hebat yang telah saya sebutkan tadi telah menuliskan segudang nasehat dan petuah hidup yang bisa membawa kita ke jenjang kehidupan yang lebih baik. Namun tidak cukup dengan hanya membacanya saja, kita perlu melakukan apa yang ditulis tersebut menjadi sebuah praktek nyata, hingga menjadi sebuah kebiasaan baru yang terbentuk atau bahkan menghilangkan kebiasaan lama yang buruk.

Dalam pengalaman, saya banyak melihat teman - teman yang 'senang' belajar. Mereka melahap semua pengetahuan yang ada, bahkan tidak hanya dari buku, juga dari berbagai seminar dan pelatihan yang bisa diikutinya. Berbagai sumber belajar dari media pun dikunyah habis. Namun banyak dari orang - orang ini memiliki kehidupan yang biasa - biasa saja. Orang - orang ini hanya menumpuk semua pengetahuan yang ada, tanpa pernah mempraktekkannya. Ia bisa menjawab semua persoalan secara literal dan kognitif, namun giliran praktek nyata orang - orang semacam ini biasanya akan mundur teratur.

Entah karena malas atau takut, banyak orang - orang yang ingin berkembang, namun tidak melakukan apa yang perlu dilakukan untuk berkembang. Tindakan nyata memang membutuhkan energi dan konsekuensi, dan tidak semua orang siap mengatasinya.

Nah, kembali pada urusan buku yang terbaik, sebenarnya semua buku pengembangan diri itu baik, asalkan ada minimal satu hal sederhana yang kita praktekkan dan terapkan dalam diri, sehingga akan mengubahkan hidup kita menjadi lebih baik. Hal ini membutuhkan sikap proaktif dari dalam diri kita sendiri. Buku bagus tidak akan mampu mengubah kita, namun hanya kemauan dan sikaplah yang akan membuat perbedaan dalam hidup.

Minggu, 10 Juni 2012

Suasana Kehidupan Di Kampung Pulo

Kampung ini berada di sebuah bukit kecil di tengah danau. Untuk menuju kesana harus menyeberang dengan menggunakan rakit bambu. Perjalanan air dengan rakit itu hanya membutuhkan waktu sekitar 7 menit.


Secara administrasi, Kampung Pulo berada di Desa Cangkuang, Garut, Jawa Barat. Oleh masyarakat sekitar, Kampung Pulo dianggap sebagai warisan sejarah sekaligus menjadi kampung adat. Penduduk yang kini tinggal di rumah - rumah yang berada di Kampung Pulo ialah keturunan Arif Muhammad, Panglima perang Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kehidupan mereka sangat harmonis dan sederhana dengan memegang nilai - nilai adat.

Nilai adat yang dimaksud ialah yang diajarkan Arif Muhammad, yang dianggap sebagai tokoh oleh masyarakat disana karena telah membangun kampung itu. Ia datang ke kampung itu, menurut cerita, karena keperluan untuk berdakwah agamanya, Islam. Dalam penuturan warga, penduduk asli Kampung Pulo sebelumnya beragama Hindu. Setelah berjalannya dakwah, sebagian memeluk agama Islam. Namun demikian, penduduk disana sejak dahulu hingga sekarang hidup rukun. Hal itu bisa dibuktikan dengan peninggalan budaya (benda) dan nilai - nilai kearifan yang terus dipelihara masyarakat Kampung Pulo.

"Meskipun sudah ada berabad - abad yang lalu, kearifan budaya di Kampung Pulo masih kami jaga dengan baik. Termasuk pantangan - pantangan juga konsisten kami terapkan dalam kehidupan sehari - hari," ujar seorang warga. Budaya dan adat istiadat di kampung itu yang terpelihara dengan baik diantaranya petilasan nenek moyang, upacara spiritual termasuk sykuran dan pembacaan wirid pada waktu tertentu serta pelestarian bangunan bersejarah disana.

Dalam mendirikan bangunan, misalnya, atap rumah tidak boleh berbentuk jure dihindari karena dahulu anak laki - laki Arif Muhammad saat akan di khitan diarak memakai jamapana (tandu) beratap jure. Saat diarak dan disambut alunan gamelan dan gong besar tiba - tiba terjadi bencana berupa angin besar yang membuat anak Arif terjatuh dari jampana kemudian meninggal.

Bercermin dari peristiwa itulah, saat setiap upacara adat penduduk Kampung Pulo tidak diperkenankan membunyikan gong besar. "Makanya kata leluhur kita disini, keturunan kula (saya) tidak boleh membangun rumah berbentuk jure dan memukul gong," ujar Tatang Sanjaya, keturunan ke sembilan Arif Muhammad.

Di tengah - tengah Kampung Pulo juga ditemukan rumah berjejer yang jumlahnya enam unit. Rumah adat tersebut terawat dengan baik. Ternyata ada kisah dibalik keberadaan bangunan itu. Jumlah rumah tersebut tidak boleh ditambah dan dikurangi. Alasannya, selain menyimbolkan enam anak perempuan Arif Muhammad, kearifan lainnya ialah merupakan simbol rukun Islam.

Penduduk Kampung Pulo taat dalam beragama dan menjadi pemelihara nilai - nilai Islam yang telah ditanamkan para pendahulu mereka. Lain halnya dengan ketidakberadaan hewan berkaki empat di Kampung Pulo. Dalam memelihara ternak, ternyata masyarakat disana juga mentaati aturan yang berlaku sejak generasi pertama mereka. Mereka tidak berani memelihara hewan berkaki empat yang besar di wilayah kampung adat.

Hal itu dimaksudkan untuk menjaga kebersihan Kampung Pulo karena disana banyak terdapat makam yang disucikan. "Selain itu dahulu para leluhur juga hanya hidup seadanya dari apa yang ada di wilayah kampung adat," ujar Tatang. Keunikan Kampung Pulo tersebut ternyata mengundang perhatian banyak wisatawan yang penasaran. Termasuk aturan atau tata cara berziarah yang mereka terapkan.

Masyarakat disana tidak diperkenankan datang berziarah pada Rabu. Waktu ziarah dimuali dari Selasa sore pukul 15.00 WIB hingga keesokan sore harinya kira - kira pukul 15.00 WIB juga. Larangan berziarah atau berkunjung ke kampung adat pada Rabu itu dimaknai karena dahulu Embah Dalem Arif Muhammad menggunakan waktu itu untuk berkonsentrasi mengajarkan agama Islam. Hari Rabu juga merupakan hari istirahat warga kampung adat saat itu.

"Sebagai penerusnya apa yang diajarkan oleh moyang kami itu kami jalankan sebaik - baiknya saat ini," tukas Tatang. "Hari Rabu itu kula (saya) tidak mau diganggu," begitulah leluhur kami mengajarkan. Sebagai kampung adat yang kental akan ajaran Islam yang diturunkan secara turun - temurun, berbagai ritual keagamaan juga dilaksanakan di Kampung Pulo. Ritual adat yang rutin dilakukan ialah melakukan syukuran menyambut datangnya bulan Maulud atau Rabiul Awal.

Memasuki tanggal 12 di bulan Maulud itu masyarakat melaksanakan syukuran besar - besaran. " Kita semua penduduk adat disini berkumpul bertawasul sambil membawa makanan di suatu tempat," terang Tatang. Selain ritual tersebut, pada tanggal 14 di bulan yang sama dilakukan upacara adat memandikan benda - benda pusaka seperti keris, batu aji dan peluru dari batu yang dianggap bermakna dan membawa berkah. Upacara memandikan benda keramat itu dilakukan pada tengah malam tepat pukul 12.00 WIB.

Ritual terakhir ialah melakukan tawasul membaca ayat - ayat suci Al - Quran pada penghujung bulan Maulud sekaligus pertanda berakhirnya dan melepas bulan Maulud. Meskipun masih konsisten menjalankan adat istiadat yang diwariskan moyangnya, Tatang Sanjaya mengaku merisaukan keberlangsungan nilai - nilai adatnya.

Menurutnya, semakin terlihat perubahan yang terjadi di kampung adat. "Misal, aturan tidak boleh menambah rumah adat dilanggar petugas Dinas Pariwisata yang menambahkan bangunan berupa pos penjagaan, museum, dan warung - warung penjual pernak - pernik wisata yang ada disini," pungkasnya.

Sabtu, 09 Juni 2012

Aplikasi Bagi Tunanetra Via Blindsquare & Lookaround

Blindsquare
Kini siapa saja semakin mudah mencapai lokasi manapun yang ingin dituju. Tak terkecuali penyandang tunanetra. Perkembangan teknologi memang sudah seharusnya bermanfaat untuk semua orang, tak terkecuali yang memiliki keterbatasan fisik.


Bayangkan, jika itu tidak dilakukan, puluhan juta penyandang tunanetra tidak punya kesempatan memanfaatkan teknologi yang mereka perlukan saat hendak bepergian. Kini kita semua bisa bergembira. Berkat Foursquare, saat ini lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia bisa dengan mudah bepergian. Teknologi Foursquare memanfaatkan jejaring sosial yang mengintegrasikan geotag, lokasi, Twitter dan Facebook menjadi satu.

Jutaan pengguna pun berhasil menciptakan beragam detail destinasi di berbagai wilayah di dunia. Hal itulah yang akhirnya menjadi inspirasi tersendiri dan terciptalah aplikasi baru yang dinamakan Blindsquare. Bukan sembarang aplikasi, Blindsquare bisa membantu penyandang tunanetra untuk beraktivitas lebih mudah, leluasa dan mandiri.

Aplikasi ini menggunakan dua juta data check-in dari para pengguna aplikasi Foursquare di seluruh dunia. Data - data yang diunggah itu pun mampu membantu para penyandang tunanetra berjalan kaki menjelajahi jalanan kota - kota besar. Itu juga membantu mereka saat memanfaatkan transportasi publik.

Kemanapun menavigasi tersebut didapat dari data integrasi Foursquare dan teknologi native suara dari Apple. Penggabungan tersebut pada akhirnya menciptakan teknologi virtual lokasi peta lewat suara. Setelah diaktifkan, aplikasi ini otomatis membaca alamat, nama jalan, berbagai wilayah, atau lokasi yang ada di sekitar pengguna berada.

Penunjuk arah tersedia berdasarkan permintaan. "Pada dasarnya aplikasi ini berbicara dan menggambarkan apa yang ada di sekitar anda. Jika anda ingin pergi ke suatu tempat, aplikasi ini bisa memandumu," ungkap IIkka Pirttimaa, kreator aplikasi Blindsquare. Saat bepergian dengan bus, misal, penyandang tunanetra biasanya tidak tahu akan berhenti dimana.

Namun dengan aplikasi itu, mereka bisa mendengar sekeliling mereka bahkan persimpangan jalan saat bus melewati atau berbelok. Aplikasi yang tersedia di Apple Itunes Store ini seharga US$ 14,99 (sekitar Rp 135 ribu). Teknologi ini bisa mengubah teks menjadi perkataan dengan device yang berbeda, tergantung pengembangan yang dilakukan developer.

Konsep aplikasi Blindsquare dan proses pembuatannya memakan waktu enam bulan. Pirttimaa mencampurkan teknologi GPS, sumber data lokasi dari para pengguna Foursquare, dan teknologi visual augmented reality dengan audio.

"Jika mereka (tunanetra) berada di wilayah yang mereka tidak tahu, Blindsquare akan membantu mereka dengan 'melukiskan' sebuah peta informasi jalan, persimpangan dan berbagai pelayanan di sekitar mereka," jelasnya. Blindsquare dirancang mampu menggambarkan peta informasi jalanan bahkan fasilitas di sekitar mereka.

Terdapat pula berbagai kategori informasi lokasi tambahan meliputi seni, hiburan, kampus, makanan (restoran), kawasan outdoor, perumahan, pusat perbelanjaan, hingga travel. Blindsquare akan melaporkan restoran dan kafe terfavorit. Aplikasi ini telah diujicoba kepada beberapa penyandang tunanetra di Finlandia, Amerika Serikat, dan Australia.

Lookaround
Aplikasi petunjuk arah bagi penyandang tunanetra, yang diberi nama Lookaround, juga dikembangkan oleh Google. Lookaround merupakan aplikasi yang dirancang khusus. Aplikasi seharga US$5 (sekitar Rp 45 ribu) ini bekerja dengan memberitahu pengguna point of interest (PoI) atau lokasi terdekat ditempat mereka berada. Caranya dengan menggoyang smartphone yang sedang digenggamnya.

Penggunaan Lookaround banyak memanfaatkan gerak tubuh. Untuk mendengarkan fungsi dari tiap 'tombol' seperti 'Lookaround', 'Nearest Cross Street', atau 'Nearest 5 Points of Interest', cukup sentuhkan jari di salah satu menu yang berada di bagian tengah layar. Setelah itu, smartphone akan menyampaikan kegunaan tiap tombol yang bisa diaktifkan dengan menahan tombol yang ingin dipilih. Ketika pengguna yang berpindah tempat ingin mendapatkan informasi keberadannya, smartphone digetarkan lagi.

Jika internet berjalan dengan maksimal, atau tempat pengguna berada dalam cakupan GPS, ia akan mendapatkan informasi bangunan yang ada di sekitar, seberang jalan atau lokasi terdekat seperti rumah makan, toko dan sejenisnya.

Peta Indonesia juga sudah bisa diakses dengan baik oleh Lookaround. Diluar dari urusan koneksi atau jangkauan GPS yang kurang baik, aplikasi yang dikembangkan Point the Way ini sudah cukup memuaskan penggunanya.

"Aplikasi ini adalah favorit saya karena membuat perjalanan penyandang tunanetra menjadi lebih mudah," ucap salah satu pengguna, seperti dilansir dalam situs play.google.com

Jumat, 08 Juni 2012

Menanti Datangnya Kedamaian Dari Langit

Nampaknya semakin jauh panggang dari api, bila kita bersama mengharapkan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi khatulistiwa ini. Hal ini disiratkan dengan realitas yang ada, bahwa jiwa seseorang yang seharusnya tak terkira nilainya dewasa ini nilai jiwa manusia Indonesia serasa menjadi sangat murah.


Tentunya kita masih mengingat tewasnya seorang suporter Persib ketika melawan Persija di Stadion Gelora Bung Karno Senayan Jakarta beberapa pekan silam. Kemudian disusul sebuah realita tentang seorang suporter Persebaya yang tewas ketika Persebaya bertanding melawan Persija di Surabaya. Belum lagi kasus bentrokan bermuatan sara di Papua, yang juga memakan korban jiwa.

Akhirnya timbul sebuah wacana dari sanubari kita, mengapa kedamaian yang pernah kita rasakan karena sebuah perjuangan melawan penjajah di masa revolusi lebih mudah kita dapatkan ketimbang era revormasi ini? Sehingga sebuah pertanyaan dari kita pun menyeruak ke tengah atsmosfer, mungkinkah kedamaian yang sekarang akan kita peroleh didapat karena turun dari langit begitu saja? Tanpa kita sematkan lantaran pencerahan dan kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara dari kita semua?

Seorang manusia Indonesia yang paling dungu pun mampu menjawab, bahwa wacana tersebut tak mungkin terealisasi tanpa kesiagapan kita dalam menyingsingkan lengan baju. Namun apa daya wacana tersebut semakin sulit direalisasikan. Justru secara kontroversi terjadi di era reformasi yang di identikan dengan supremasi hukum, keterbukaan antara kita semua, kebebasan pers, kebebasan berbicara dan berpolitik, revitalisasi fungsi TNI menjadi fungsi pertahanan negara semata. Serta optimalisasi fungsi pendidikan guna menuju manusia Indonesia yang berkarakter.

Namun pada kenyataan langkah kita untuk menuju titik akhir sebuah reformasi semakin tidak jelas, dengan menorehkan perilaku - perilaku kontroversi dan amoralitas pada manusia yang terus saja bergulir. Terutama para oknum petinggi kita yang miskin suri tauladan terhadap grassrote. Baik oknum pejabat negara dari daerah hingga pusat atau petinggi partai yang semakin mengisyaratkan sesuatu kegamblangan tentang mentalitas oknum petinggi partai kita. Keadaan sudah demikian tinggi tingkat distorsi moralitasnya. Lantas siapa lagi yang bakal membela nasib si kecil yang semakin terjebak dalam berbagai pendzoliman? Seperti mahalnya biaya pendidikan di sekolah negeri dan kesulitan lainnya?

Nampaknya kita sudah lupa dengan tujuan reformasi yang semula kita usung. Tinggalah kini sebuah orde transisi yang kita miliki. Sebuah orde yang bercirikan kegamangan semua sistem yang kita miliki di tengah masyarakat yang gamang, yang telah mengalami krisis jati diri. Sebagian masyarakat mengokohkan sikap berbangsa dan bernegara dengan identitas tertentu dan sebagian lainnya mengusung sebuah identitas lainnya. Sebagian masyarakat Indonesia lupa diri dengan hidup dari hasil korupsi, tanpa sedikitpun beban moralitas yang ada. Sedangkan sebagian lainnya menganggap korupsi adalah pengkhianatan terhadap diri sendiri, masyarakat dan negara.

Bahkan sebagian pendidik menganggap hal yang biasa dengan pencurangan UN, sedangkan sebagian lainnya menganggap pencurangan UN pada peserta didik adalah tindakan perusakan jati diri generasi muda.

Padahal kedamaian yang melengkungi suatu bangsa yang merdeka tentunya diawali terlebih dahulu dengan kesepakatan kita bersama dalam menjaga dan melestarikan nilai - nilai dasar yang berlaku di negara tersebut. Barulah sebuah kedamaian tentu saja bisa turun dari langit. Namun sebaliknya apabila kita bisa melupakan ini semua, maka kedamaian yang turun dari langit sampai kapanpun tak bakal mampu kita peroleh. Tentu saja kita mengetahui bersama bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan merubah nasib suatu kaum, apabila kaum itu mampu beritikad dan berbuat untuk mendapatkan prestasi gemilangnya.

Di lain pihak apabila masa transisi sebuah bangsa tidak mampu kita lewati, maka sebuah ancaman bukan tidak mungkin akan kita dapatkan, yaitu sebuah integrasi yang sangat merugikan kita bersama. Jadilah sebuah isapan jempol belaka tentang kedamaian yang bisa turun dari langit.

Kamis, 07 Juni 2012

Body Kit Sepeda Motor Terus Diminati

Saat anda menonton tayangan televisi GP atau Superbike, mungkin tidak pernah terpikir bahwa desain body kit sepeda motor ber-CC besar seperti itu mudah ditiru di Temanggung. Ternyata, perkembangan desain kendaraan super cepat tersebut menular pada kendaraan lokal yang dimiliki pecinta motor sport di tanah air.


Peluang membidik pecinta motor sport ini ditangkap oleh Bagus Pradana (21) pemuda yang kini menggeluti usaha modifikasi body kit. Di ruang workshopnya di kawasan Sendang, Kedungumpul, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Bagus berkreasi merancang aneka desain body kit, mulai dari fairing, duck tail, spatbor, hingga tutup lampu.

"Semua desain adalah custom sesuai selera dan permintaan konsumen. Kalau konsumen sudah pasrah soal desain, kami menawarkan desain sendiri," ujar Bagus yang merupakan alumni Akindo Yogyakarta dan pernah menyabet juara II Nasional Lomba Modifikasi Motor Sport tahun kemarin.

Usaha modifikasi body kit ini cukup menjanjikan. Dilihat dari order yang diterima Viper Modified (nama usaha yang dimiliki Bagus), konsumen berasal dari berbagai kota, mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, hingga Denpasar, Bali. Latar belakang konsumen adalah pecinta motor sport, sesuai spesialisasi yang dimiliki Viper Modified.

"Pesanan body kit yang sudah ada saat ini adalah moge Suzuki GSX 1000 cc, Ninja RR 250 kemudian Honda CBR, sampai yang motor ber-cc rendah seperti Yamaha Bison dan Vixion. Bisa juga kami mengerjakan untuk motor prototipe atau yang futuristik sekalipun," ungkapnya.

Metode getok tular antar anggota klub motor sport di tanah air diakui Bagus menjadi sarana marketing yang mumpuni bagi usaha tersebut. Prinsip yang dipegang dia adalah bekerja sesuai pesanan, tepat waktu dan sentuhan hasil akhir yang memuaskan. Dia menyatakan, untuk pengerjaan body kit yang cukup rumit dibutuhkan waktu sampai dua bulan. Sedangkan untuk body kit yang simpel, hanya butuh waktu satu sampai dua pekan saja.

Tingkat kesulitan tertinggi adalah pada aplikasi desain yang rumit saat mastering atau ngemal dan ketepatan dimensi body kit ketika dipasang di body sasis motor. Sedangkan soal racikan bahan baku, serat fiber dan akrilik, sudah dikuasai Bagus dan tim kerjanya yang berjumlah tiga orang.

Soal harga pesanan untuk body kit dibanderol Rp 4 juta hingga Rp 12 juta. Pasar konsumen body kit ini menurut Bagus masih sangat luas. Mengingat perkembangan teknologi otomotif yang terus meningkat dan dinamis, khususnya dari sisi desain.

"Pecinta motor sport, khususnya remaja, pasti ingin sesuatu yang baru dan berbeda dengan yang lain," ujarnya.

Tragis, Wanita Hamil Tewas Dijambret

Seorang ibu muda yang sedang hamil tujuh bulan, tewas akibat aksi penjambretan. Korban juga berstatus mahasiswi Undip. Korban tewas akibat aksi penjambretan itu adalah Natisa Listiani Nasiroh yang akrab dipanggil Tisa (24). Ia menjadi korban penjambretan di Jalan Sultan Agung, tepatnya di depan SMA Don Bosko atau sekitar 300 meter dari Mapolsek Gajahmungkur, Kota Semarang, Rabu (6/6) sekitar pukul 01.30 pagi.

Tisa merupakan mahasiswi jurusan Sastra Inggris, Universitas Diponegoro (Undip) angkatan 2008. Lulusan SMA 5 itu telah bersuami dan saat ajal menjemputnya, Tisa dalam kondisi hamil 7 bulan. Informasi yang dihimpun menyebutkan, dini hari itu, Tisa mengendarai Yamaha Jupiter H 6349 RZ dari Gajahmungkur menuju Jatingaleh. Diperkirakan, Tisa hendak pulang ke Banyumanik.


Di seberang SMA Don Bosko yang relatif gelap, Tisa dipepet dua lelaki pengendara Yamaha Vixion warna merah. Si pembonceng menendang Tisa hingga terjatuh. Saat Tisa tersungkur di aspal, dia ditabrak motor Honda Megapro yang juga dikendarai dua pria. Keempat pria itu diduga menjambret tas Tisa.

Foto korban diambil dari akun twitter @NatisaListiyani
Seorang penjual makanan, Aji Yulianto (24), mengaku melihat kejadian itu dari warungnya yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi kejadian. "Saat itu, pengendara Jupiter (korban) ngebut dan dipepet dari sebelah kanan oleh dua lelaki yang tak memakai helm berboncengan mengendarai Yamaha Vixion warna merah," ujar Aji.

Menurut Aji, pria pembonceng Yamaha Vixion menarik tas yang disangkutkan di pundak si pengendara Jupiter. Korban berusaha mempertahankan tasnya. Sempat terjadi rebutan tas hingga si pengendara Jupiter jatuh ke aspal dalam kondisi tengkurap.

Setelah merebut tas korban, kedua lelaki pengendara Yamaha Vixion tancap gas ke Jalan Dr Wahidin. Aji dan sejumlah pengunjung warung, segera beranjak untuk menolong korban. "Namun sebelum kami mendekati korban, tiba - tiba muncul dua pria lain yang mengendarai Megapro warna hitam. Mereka menabrak korban kemudian kabur. Saya pun hampir tertabrak Megapro itu," ujar Aji.

Aji lantas melaporkan kejadian ini ke Mapolsek Gajahmungkur. Korban yang dalam kondisi bersimbah darah tergeletak ditepi jalan selama sekitar sejam. Sejumlah pengendara yang lewat sempat mengira korban dalam kondisi mabuk minuman keras.

Polisi kemudian membawa jenazah korban ke RS Elisabeth. Sesampainya di rumah sakit, dokter menyatakan korban sudah meninggal dunia. Jenazah korban lalu dipindahkan ke kamar jenazah RSUD Dr Kariadi. Polisi tak menemukan kartu identitas pada korban sehingga jenazah Tisa sempat diberi status jenazah tak dikenal.

Polisi melacak identitas korban dari pelat nomor kendaraan. Namun sepeda motor Jupiter warna hitam kuning itu sempat pindah tangan. Identitas korban baru diketahui sekitar pukul 14.00. Polisi mendatangi rumah korban di Jerukwangi, Bangsri, Kabupaten Jepara.

Semalam, sekitar pukul 19.00, kerabat dan teman - teman kuliah korban datang ke kamar mayat di RSUD Dr Kariadi. Puluhan teman dari kampus Undip tak kuasa menahan tangis saat melihat jenazah korban dimasukkan ke dalam mobil ambulans untuk dibawa ke rumah duka di Jepara.

Kapolsek Gajahmungkur, Kompol Ave Guna Pandia, mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah Tisa merupakan korban penjambretan hingga jatuh dan meninggal dunia ataukah korban kecelakaan lalu lintas. Polisi mengamankan sepeda motor Jupiter milik korban. Kendaraan roda dua itu hanya lecet dan rusak ringan.

Selain Yamaha Jupiter, polisi juga masih menyimpan sebuah helm warna putih dan sendal milik korban. "Kami masih memintai keterangan sejumlah saksi dan masih menyelidiki kasus ini," kata Pandia.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Agus Maladi Irianto, mengaku sangat berduka atas meninggalnya Natisa. Menurut Agus, Almarhumah adalah sosok mahasiswi yang pandai dan memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi.

"Dia adalah mahasiswi yang ulet. Selain kuliah, ia juga menjalankan usaha. Dia sangat aktif menjalankan usahanya itu dalam beberapa bulan terakhir," kata Agus saat dihubungi, semalam. FIB, kata Agus akan memberikan santunan kepada keluarga Natisa di Jepara.

Agus minta polisi mengusut tuntas kasus yang menewaskan Tisa. Pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya atas almarhumah, meski tidak dapat mengembalikan hidup Natisa lagi.

Agus juga mendesak aparat kepolisian untuk meningkatkan keamanan Semarang. Banyak aksi kejahatan yang terjadi di jalan, membuat jalanan memberi ancaman terhadap masyarakat, termasuk para mahasiswa.
 

DEWASA Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger