Warung Bebas

Minggu, 11 Desember 2011

Pelajar Beringas, Ada Apa?

Tayangan media tentang sekelompok pelajar SMP yang membakar ruang kelasnya dengan alasan iseng, maupun ulah pelajar SD yang membunuh pelajar SMP hanya karena masalah graffiti mengundang keprihatinan mendalam. Apalagi pelakunya anak - anak yang masih di bawah umur yang seharusnya masih disibukkan dengan permainan yang menyenangkan.


Dua kejadian diatas hanyalah sebagian dari puluhan, bahkan ratusan kasus yang menempatkan pelajar sebagai pelakunya. Muncul pertanyaan di kalangan masyarakat ada apa dengan pelajar kita? Siapakah yang sakit, pelajar atau masyarakat?

Dalam pandangan psikologis, perilaku semacam itu merupakan bentuk salah arah pada diri remaja dalam upaya menemukan jatidirinya. Masa remaja (adolescence) adalah masa paling rawan dalam proses pertumbuhan. Satu sisi secara fisik anak telah memenuhi syarat sebagai seorang dewasa, di sisi lain belumj diimbangi dengan kedewasaan secara psikologis.

Kondisi semacam itu menempatkan mereka dalam posisi labil. Kecerdasan emosi yang belum matang mendorong remaja melakukan pencarian jati diri tanpa dilandasi dengan logika / rasio. Termasuk diantaranya bernagai perilaku yang cenderung beringas. Secara umum faktor - faktor yang turut berperan dalam pembentukan berbagai perilaku menyimpang tersebut yakni:

1. Beban kurikulum yang berat

Disadari atau tidak, sekolah saat ini menjadi salah satu tempat yang menyeramkan bagi sebagian siswa. KTSP yang digadang - gadang mampu memberikan rasa nyaman bagi siswa dalam belajar ternyata justru sebaliknya. Bagaimana tidak memberatkan jika dalam satu minggu seorang siswa SMA harus menyelesaikan 17 mata pelajaran yang terbagi dalam 39 - 43 jam pelajaran.

Tingkat frustasi siswa semakin tinggi dengan penentuan angka KKM yang dipaksakan, sehingga siswa yang tidak mampu secara akademis melakukan berbagai bentuk kompensasi negatif, mencontek, membolos, membuat kegaduhan dan lain - lain.

2. Kompetensi guru

Pada sisi lain guru juga dinilai turut berperan dalam pembentukan berbagai perolaku menyimpang pada diri pelajar. Dalam tataran ideal seorang guru mempunyai dua tugas penting, yaitu mengajar dan mendidik.

Tugas mengajar bagi seorang guru adalah tugas untuk mentransfer ilmu pada diri pelajar, sedangkan tugas mendidik bagaimana seorang guru harus mampu membentuk sikap dan perilaku siswa sesui norma yang berlaku.

Ironisnya, sebagian guru hanya terfokus pada tugas mengajar dan mengabaikan aspek pembentukan sikap dan perilaku siswa. Akibatnya, seakan - akan guru hanya mengejar target materi pelajaran yang harus diselesaikan sesuai tuntutan silabus.

3. Perhatian orang tua

Menurut Ki Hajar Dewantara, orang tua merupakan salah satu pilar utama pembentukan pribadi pelajar. Namun, peran tersebut semakin berkurang dewasa ini, tuntutan ekonomi membuat orang tua tidak mempunyai waktu bagi putra - putrinya.

Pemenuhan dalam segi materi dianggap sebagai imbalan atas kurangnya perhatian terhadap anak - anak. Tugas pembentukan sikap dan perilaku anak sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Kontrol yang kurang dari orang tua membuat anak leluasa melakukan aktivitas yang tidak bertanggung jawab.

4. Tayangan kekerasan

Salah satu ciri khas orde reformasi adalah keleluasaan masyarakat untuk mengakses berbagai informasi. Kebebasan ini diam - diam membawa dampak kurang bagus bagi perkembangan jiwa anak - anak.

Tayangan kekerasan berupa film maupun berita - berita kriminal membuat anak - anak familiar dengan peristiwa - peristiwa kekerasan. Bahkan beberapa media menampilkan reka adegan yang bukan tidak mustahil justru memberikan inspirasi bagi sebagian pihak untuk melakukan tindakan tersebut.

Berkaca dari fakta - fakta itu, tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain terjalinnya kerja sama pihak pemerintah, sekolah dan orang tua. Komunikasi yang baik antara pelajar, sekolah dan orang tua memberikan rasa nyaman bagi mereka.

Christina Aguilera Berpose Panas Dalam Fotonya

Christina Aguilera adalah salah satu penyanyi Amerika Serikat yang paling fenomenal. Christina Aguilera memiliki pinggul yang seksi dengan anatomi tubuh yang tampak syur dan panas. Selain memiliki suara yang khas, Christina Aguilera juga menjadi panutan dalam hal fashion, apapun pakaian yang dikenakannya akan ditiru oleh masyarakat dan fans - fansnya.





Indahnya Bisnis Merangkai Bunga

Seni merangkai bunga terus berkembang, para pelaku usaha ini terus berupaya memanfaatkan daya tarik yang melekat pada bunga untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat. Mulai dari hiasan, dekorasi, hingga ucapan.


Seperti halnya dilakukan Budi Santoso, pemilik Rosenda Florist, yang memulai usaha merangkai bunga sejak 1995 silam. Saat itu, istrinya yang pandai merangkai bunga membuat dalam partai kecil. Pelanggan yang puas dengan hasil karangan bunga ini terus bertambah seiring meningkatnya usia usaha tersebut.

"Dulu karangan bunga ini dijual hanya kepada teman. Ternyata banyak yang suka. Lantas usaha ini bisa terus berlanjut hingga sekarang," katanya. Dia mengaku, kondisi usaha sudah semakin lancar karena tak perlu lagi repot mencari pelanggan. Setelah dibukanya situs www.rosendaflorist.com, konsumen tak hanya datang dari semarang.

"Anak saya yang punya ide untuk membuat website itu. Pelanggan terus berdatangan, dari Jakarta, Surabaya dan sejumlah kota lain," ucapnya.

Budi mengatakan, ada beragam jenis karangan bunga untuk hiasan dan karangan bunga papan untuk ucapan suka atau duka cita. Untuk karangan bunga hiasan, dibanderol mulai Rp. 200 ribu sampai Rp. 1 juta perbuah.

"Karangan bunga hiasan yang dipesan, bisa menggunakan bunga asli atau artificial. Sedangkan potnya terbuat dari keramik yang kini modelnya terdapat sekitar 10 jenis," katanya.

Penghasilan terbesar usaha ini diperoleh dari penjualan karangan bunga papan. Karangan bunga itu umumnya dipesan untuk mengucapkan belasungkawa atau ucapan selamat.

"Penghasilan dari karangan bunga hiasan, hanya sekitar 10 persen. Perbulan, kami bisa mendapat pesanan sekitar 250 buah dengan harga sekitar Rp. 300 ribu," ujarnya.

Dengan banyaknya pesanan itu, omzet yang diperoleh minimal sekitar Rp. 75 juta per bulan. Pasalnya, kebutuhan atas bunga karangan tak pernah padam. "Rata - ratanya anggap saja begitu. Untuk karangan bunga ini paling mahal Rp. 1 juta perbuah, tapi kadang ada saja pelanggan yang minta lebih.

Biasanya, karangan dicampur antara bunga asli dan palsu," ujar pria yang mengaku menyelesaikan satu buah karangan bunga papan, selama 20 menit.

Dalam memenuhi permintaan pelanggan, dirinya terus menjaga kualitas mutu produk. Semua pesanan pun diusahakan dapat dipenuhi sesuai dengan batas waktunya. Pelayanan yang baik kepada konsumen itulah yang membuat usaha ini terus berjalan sampai sekarang, didukung dengan kerja keras.

Sabtu, 10 Desember 2011

Terlanjur Kepincut Mercedes Benz Klasik

Kalau sudah hobi, apapun tak akan menjadi masalah, kendati harus mengeluarkan kocek besar. Apapun dilakukan, untuk memberikan kepuasan nurani yang tak cukup hanya dijelaskan dengan kata - kata.


Ungkapan itu tepat menggambarkan Andre (41) dalam bergelut dengan hobinya di Mercedes Classic Club Indonesia (MCCI). Puluhan juta hingga ratusan juta rupiah dikeluarkannya untuk melengkapi koleksi mobil Mercedes Benz Klasik miliknya.

"Sekarang saya sudah punya 15 mobil klasik, selain menjadi seorang kolektor, saya juga mendapatkan penghasilan, ya, dari sini. Jadi tidak hanya hobi," ujarnya di sela - sela berlangsungnya Jambore Nasional VI Mercedes Benz Club Indonesia (MBCI) di GOR Jatidiri, Semarang, beberapa waktu lalu.

Tak lain dan tak bukan, menjatuhkan pilihannya ke mobil besutan Eropa itu karena memiliki kenyamanan , keamanan, dan model yang artistik, "Karena yang saya suka adalah yang mobil klasiknya, secara investasi sangat bagus. Karena harganya tak akan turun, justru terus meningkat bahkan tak memiliki patokan harga," katanya.

Dalam hal perawatan, tak ada kesulitan berarti selama menjalani hobinya itu. Namun, dalam hal kelengkapan aksesoris dan onderdil, terpaksa harus pergi keluar negeri bila tidak mendapatkan di Indonesia.

"Untuk mencari onderdil, memang agak sulit, karena mobilnya saja sudah berusia puluhan tahun. Ada yang dari tahun 40-an dan masih berjalan," ujarnya.

Andre mengatakan, untuk bergelut dalam hobi ini tidak cukup memiliki uang banyak, "Uang banyak bukan yang utama, karena mobil ini kan barang antik dan jumlahnya sangat sedikit. Misalnya kita suka dengan mobil yang paling tua, punya uang Rp. 2 miliar saja, kalau tidak dijual pemiliknya juga tidak bisa," ucapnya.

Vice President Event Mercedes Benz Club Indonesia (MBCI), Iswachyudi Abdulrachman, juga tertarik pada mobil klasik yang dimiliki Mercedes Benz. Ketangguhannya pada mesin dan onderdil menjadi daya tariknya untuk berkecimpung dalam pecinta mobil klasik.

"Saya suka mobil Mercedes Benz klasik, terutama untuk Tiger W123 karena mobil - mobil ini sangat tangguh, bandingkan saja, mobil - mobil sekarang setiap 2 tahun tahun sekali harus ganti kampas rem. Mobil keluaran Mercedes Benz bisa sampai 5 - 7 tahun baru mengganti kampas rem," ujarnya.

Saat ini dia memiliki 5 mobil klasik Mercedes Benz dan jangan tanya soal harga, karena bagi yang bukan pehobi pasti menganggap angka tersebut termasuk besar. "Kami tidak melihat seberapa besar biayanya, melainkan dari kepuasannya. Memandangi mobil yang kita miliki saja sudah memiliki kenikmatan tersendiri," ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini jumlah mobil Mercedes Benz klasik tak lebih dari 6000 unit yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Wingko Babat Dengan Bahan Sukun

Salah satu bentuk upaya melestarikan makanan tradisional adalah dengan membuat inovasi rasa. Tanpa meninggalkan bentuk dan proses penyajian, bahan dasar yang berbeda merupakan terobosan penting terhadap kuliner tradisional.


Model seperti ini dilakukan Shandy, penemu wingko sukun. Ia telah mampu memproduksi 400 buah wingko sukun sehari. "Saya membuat ini awalnya adalah untuk menyelesaikan tugas skripsi, tapi saya kemudian mengembangkannya sebagai peluang bisnis juga," ujarnya.

Untuk memperkenalkan produk ini, dirinya menitipkan beberapa wingko sukun ke pusat oleh - oleh dan rumah makan. "Saat ini kita memang masih perlu banyak promosi, karena kita masih baru," ujar wanita yang merintis usaha sejak maret beberapa bulan lalu.

Kendati pemain baru, ia telah meregristasikan produknya ke departemen kesehatan dan sudah pula membuat kemasan wingko sukun. "Kita kemas biar menjadi lebih menarik, satu kantong berisi 10 biji, seharga Rp. 10 ribu," katanya.

Setiap hari, dia memerlukan 4 kilogram sukun dalam bentuk pasta untuk dicampurkan ke adonan. Soal bahan, tak ada yang beda dengan pembuatan wingko pada umumnya. "Sukun yang sudah dilumat menjadi pasta sebanyak 4 kilogram bisa dibuat 400 buah wingko, kemudian dicampur kelapa, gula dan lain sebagainya," kata dia.

Ada dua pilihan rasa, yaitu original dan rasa gula aren. Keduanya dibuat agar tidak monoton. "Untuk membuat rasa lain harus menggunakan percobaan, misalnya untuk menemukan wingko sukun ini harus gagal satu kali percobaan," kata warga kampung Kaliangse, RT 01 RW 04, Gajah Mungkur, Semarang ini.

Kendala yang dihadapi saat ini adalah pengenalan produk dan modal. Produk yang dibuat belum banyak diketahui masyarakat. "Ini masih produk baru, jadi perlu pengenalan terlebih dulu dan mengikuti pameran - pameran industri kecil menengah menjadi salah satu cara untuk mengenalkan produk kita," ungkapnya.

Kendala selanjutnya adalah keterbatasan modal. Untuk mengenalkan produk harus meningkatkan jumlah produksi dan itu artinya biaya. "Saya rencananya pinjam dana ke bank untuk modal, tapi masih pikir - pikir dulu karena perlu melihat situasi pasar," ungkap Shandy.

Dengan jumlah produksi itu, dirinya mengaku telah kembali modal. Padahal usaha itu belum genap setahun. "Syukur, sudah kembali modalnya. Karena omzetnya juga lumayan Rp. 2 juta sampai 3 juta," ujarnya.

Jumat, 09 Desember 2011

Produksi Kasur Lantai Beromzet Miliaran Rupiah

Matahari belum sepenuhnya muncul dari ufuk timur. Sejumlah kendaraan bak terbuka mulai bergerak meninggalkan dusun Wanalaya, Desa Banjarkerta, Karanganyar, Purbalingga. Kendaraan bak terbuka itu mengangkut produk yang sama, yakni kasur lantai dan kasur ranjang. Dari dusun itu, ribuan kasur membanjiri pasar di jawa dan luar pulau jawa.


Sedikitnya 200 kepala keluarga atau sekitar 95% warga dusun itu menggantungkan nafkahnya dari industri kasur. Sisanya, seperti warga desa umumnya, mengais nafkah dengan bertani. Dan dalam jumlah yang tidak banyak, terdapat pula warga yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil maupun perangkat desa.

Hampir di setiap sudut rumah di dusun itu, laki - laki maupun perempuan dewasa sudah piawai membuat dan sekaligus memasarkan kasur. Dari kerajinan kasur itu pula
, tingkat kesejahteraan masyarakat Wanalaya relatif mapan. Gambaran kesejahteraan masyarakat perajin kasur tampak dari rumah penduduk yang permanen. Tidak sedikit pula rumah - rumah itu yang dilengkapi garasi mobil dan antena parabola.

Denyut ekonomi kreatif warga Wanalaya dimulai pada tahun 2000. Seorang warga RT 01 / RW 04 dusun itu, Ramin Supriyadi (41)
, bisa dibilang yang pertama merintis usaha kasur tersebut. Diawali dengan berjualan korden keliling, Ramin memikul dan menawarkan dagangan ke rumah - rumah penduduk di Purbalingga, Purwokerto hingga Temanggung. Hingga pada suatu ketika, saat masuk ke sebuah supermarket di Purwokerto, ia melihat kasur lantai yang dijual Rp. 270 ribu perbuah.

"Saat itu saya mikir, saya pasti bisa bikin kasur seperti ini karena dulu saya pernah bekerja menjual kasur ranjang kelilingan di Jakarta, Akhirnya saya coba - coba bikin kasur lantai itu. Modal awal saya Rp. 250 ribu buat beli kain dan kapas. Saya bikin jadi empat kasur", tutur Ramin Supriyadi.

Dengan cara yang sama, yakni dipikul keliling rumah penduduk, Ramin menawarkan dagangan di kawasan Baturaden. Hasilnya, empat kasur buatan tangannya habis terjual dengan harga masing - masing Rp. 200 ribu. Dengan uang hasil penjualan Rp. 800 ribu itu, Ramin Supriyadi memproduksi kasur lebih banyak lagi.

Karena prospek membaik, Ramin Supriyadi nekat menjual semua perhiasan istrinya dan barang berharga lainnya hingga terkumpul modal Rp. 1,8 juta. Uang itu untuk membeli kain dan limbah kapas dari pabrik tekstil di bandung dalam jumlah besar. Dengan mempekerjakan warga sekitar, jumlah kasur lantai yang dihasilkannya pun semakin banyak dan tentu saja keuntungan yang diraup semakin besar pula.

Semakin banyaknya permintaan kasur, disikapi Ramin dengan memberdayakan masyarakat sekitarnya. Ratusan warga dusun Wanalaya pun menjadi semacam plasma industri kasur, mengambil bahan baku dan menjualnya kepada Ramin.

Proses membuat kasur lantai, kain khusus untuk membuat bahan kasur dijahit terlebih dahulu, kemudian dimasuki kapas dari limbah pabrik tekstil. Pada proses ini diperlukan teknik khusus. Bagi yang sudah mahir, dalam sehari seorang pekerja bisa membuat 12 - 15 kasur lantai, dengan ongkos Rp. 3 ribu per kasur. Karena sudah menjadi kebiasaan, kini banyak warga dusun Wanalaya yang piawai membuat kasur lantai.

"Awal 2003 saya mulai memasarkan kasur hingga ke Kalimantan Barat. Disana prospeknya juga bagus, hingga akhirnya kini usaha saya sudah melebar hingga ke seluruh Sumatera, Sulawesi, Maluku, Papua hingga ke Timor Leste. Bahkan produk saya juga sudah sampai ke Malaysia lewat orang pontianak yang mengirim kesana," ujar bapak dua anak yang mengaku hanya tamat SD ini.

Dalam setiap bulan, Ramin mengaku mampu memproduksi 15.000 kasur. Bahkan kalau pesanan atau permintaan pasar sedang ramai, bisa lebih dari itu. Untuk memproduksi kasur sebanyak itu, dalam setiap bulannya Ramin harus mengeluarkan uang mencapai Rp. 1,2 miliar. Yakni untuk membeli kapas dari limbah pabrik tekstil di Bandung seharga Rp. 800 juta, ditambah upah tenaga kerja yang jumlahnya mencapai ratusan.

Selain kasur, kini Ramin juga memproduksi bantal serta guling. Kasur lantai dijual bervariasi, antara Rp. 70 ribu hingga Rp. 150 ribu. Kasur produksinya itu diberi label Adinita yang diambil dari nama salah satu anaknya. "Omzet kasur yang saya produksi justru lebih besar di luar Jawa, terutama Kalimantan. Orang luar Jawa itu kalau kasurnya sudah kotor langsung dibuang terus beli yang baru," ujarnya.

Kamis, 08 Desember 2011

Body Bahenol Sunny Leone Yang Menggoda

Sunny Leone adalah seorang model yang lahir di Ontario, Kanada. Sunny Leone dibesarkan di tempat yang indah. Setiap musim salju, Sunny Leone kecil sering bermain halaman di rumahnya dan membuat manusia salju. Namun sayang sekali, terkadang nasib membawa arah kehidupan yang tak menentu, kini Sunny Leone berprofesi sebagai seorang model telanjang.










 

DEWASA Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger