Warung Bebas

Kamis, 09 Agustus 2012

Kejamnya Perdagangan Manusia

Perbudakan zaman modern dan mengungkap kekejaman manusia yang kelewat batas demi mencari duit terungkap dalam film dokumenter 'Sands of Silence' yang sangat mengejutkan, karena dibuat berdasar kisah nyata dari salah seorang korban perbudakan.


Jika kini muncul lembaga 'Human Trafficking Survivors Foundation', maka pendiri sekaligus ketuanya tidak lain korban perbudakan itu sendiri, yakni Virginia Isaias. Di dalam film itu Isaias menuturkan ia dipukul seseorang yang tak dikenal hingga pingsan, dan baru siuman di lantai sebuah rumah yang tak terurus, tapi akhirnya ia tahu dirinya diculik bersama bayinya yang berumur enam bulan dan dipaksa menjadi pelacur di negara bagian Chiapas, Meksiko selatan.

Para penculik mengambil bayinya dan menyerahkannya ke seorang perempuan lain kemudian penculik menyerahkan bayi perempuan lain kepadanya. Para penculik juga mengancam dan punya orang - orang yang selalu mengawasinya. Suatu ketika Isaias bisa kabur, tapi untuk mendapatkan kembali bayinya ia harus membayar uang tebusan.

Tragedi yang menimpa Isaias yang terlalu sering terjadi pada wanita muda lain, kata pembuat film 'Sands of Silence' yakni Chelo Alvarez-Stehle yang juga orang Meksiko. Dalam film itu terungkap bahwa globalisasi yang bisa mendorong orang untuk migrasi, mendesak orang pindah dari satu negara ke negara lain, sehingga rentan terhadap para pedagang manusia.

Chelo Alvarez-Stehle tak hanya membuat film kisah Isaias, tapi juga menciptakan online game untuk memberi penyuluhan kepada kawula muda mengenai masalah itu. Lantaran ini para pejabat di Los Angeles, AS, membuat program penyuluhan agar para sopir dan penumpang bus mewaspadai masalah perdagangan perempuan - perempuan muda yang dijadikan pelacur.



Ratusan, mungkin ribuan perempuan muda, remaja dibawah usia 18 tahun yang jadi korban praktik pelacuran paksa. Orang yang menangani perbudakan 53ks alias mucikari dikejar. Bersamaan itu dibuat undang - undang 'California Against Sexual Exploitation' (CASE) yang menambah hukuman dan memberi pertolongan kepada wanita korban penculikan dan perbudakan 53ks.

Rabu, 08 Agustus 2012

Perampok 'Alfamart' Beraksi 3 Menit

Aksi perampokan minimarket 24 jam 'Alfamart' di Jalan Godean Km 8 Bantulan Sidoarum Godean, hingga Senin (6/8) belum ada titik terang. Petugas belum dapat menangkap satu pun pelaku perampokan yang terjadi Minggu (5/8) dini hari tersebut.


Meski demikian, setidaknya 3 saksi telah dimintai keterangannya oleh petugas Reskrim Polsek Godean. Petugas juga telah mempelajari rekaman CCTV yang terpasang di 'Alfamart'. Dari rekaman CCTV, polisi menduga pelaku merupakan pemain baru. "Sejauh ini masih dilakukan penyelidikan dan Polres Sleman membantu back up penanganan kasusnya," ungkap Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Widy Saputra SIK.

Sumber di Mapolres Sleman menyebutkan, dari rekaman CCTV diketahui perampok hanya membutuhkan waktu tiga menit untuk beraksi. Mulai dari masuk ke dalam, duel hingga melukai karyawan hingga mengambil uang tunai di dalam laci dan kemudian kabur. "Kurang dari 3 menit para perampok itu beraksi di dalam 'Alfamart', ungkap seorang penyidik Polres Sleman yang enggan disebut namanya.

Dari rekaman CCTV terlihat pelaku masuk tidak bersamaan dan menggunakan helm. Mereka kemudian menyebar, salah satunya masuk ke ruang kasir yang saat itu ditunggui karyawan, Sigit Guntoro (20) warga Semin, Gunungkidul. Pelaku kemudian mengeluarkan senjata tajam sehingga terjadi perkelahian antara perampok dengan Sigit Guntoro.

Setelah melukai Sigit dan mengambil uang di laci sekitar Rp 800 ribu, 3 perampok langsung kabur dan diluar sudah ditunggu 3 kawanan lainnya. Petugas menduga, pelaku sengaja tidak memarkir sepeda motor di depan 'Alfamart' untuk menghilangkan jejak. Sementara berdasarkan keterangan saksi , jenis sepeda motor yang dipakai oleh perampok yang diperkirakan berjumlah 6 orang itu salah satunya diduga matik.

Senin, 06 Agustus 2012

Kemarau, Peternak Sapi Perah Sulit Dapat Rumput

Satu bulan ini, adalah masa paling sulit bagi peternak sapi perah yang tersebar di wilayah Kecamatan Sidomukti, Salatiga. Pasalnya, sejak sebulan lalu mereka sudah mulai kesulitan mendapatkan rumput untuk pakan ternak sapi perah mereka karena kemarau. Akibat minimnya rumput, para peternak pun harus bekerja ekstra keras untuk bisa mendapatkan rumput, terutama rumput gajah sebagai pakan ternaknya.


Tetapi, ternyata bukan hanya soal sulitnya mendapatkan rumput yang dihadapi mereka, melainkan juga soal harga susu yang terus turun. Hardi (65), misalnya. Peternak sapi perah di RT 03 RW 06 Warak Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Sidomukti Salatiga, mengaku harus berjalan kaki menuju pinggiran Danau Rawa Pening, Tuntang Kabupaten Semarang. Padahal, jarak di tempatnya ke Rawa Pening, ada sekitar 7 kilometer. Tapi, demi mendapatkan rumput gajah segar untuk ternak sapinya, hal itu tak menjadikan halangan bagi dirinya.

"Terpaksa kami lakukan karena rumput gajah dan rumput kalanjana yang selama ini menjadi tumpuan bagi ternak sapi perahnya tidak tumbuh lagi di ladang dan di pekarangan rumahnya," ujar Hadi. Peternak sapi perah lainnya, Bagio (42), warga Tegalsari Kelurahan Mangunsari, Sidomukti, Salatiga, juga merasakan hal serupa seperti dialami Hardi. Dengan empat sapi perahnya, saat musim kemarau seperti saat ini, dirasakannya sangat menyulitkan. Sebab, untuk mencukupi pakan ternak sapi perahnya, ia terkadang harus membeli rumput gajah atau rumput kalanjana dengan harga Rp 10.000 - Rp 15.000 per ikat.

"Padahal, untuk pakan ternak sapi perah, tidak hanya cukup rumput namun perlu ditambah katul dan konsentrat agar asupan gizi untuk ternak sapi perah tercukupi. Kalau tidak, susu yang dihasilkan akan berkualitas jelek dan membuat harganya semakin murah," ungkapnya. Perjuangan berat para petani sapi perah untuk bisa mendapatkan rumput dan kualitas susu yang baik, ternyata kurang seimbang dengan harga susu yang dihasilkannya. Pasalnya, di tingkatan peternak, harga susu sangat murah, yakni Rp 3.000/kilogram.

"Serba salah untuk peternak sapi saat musim kemarau seperti sekarang ini, rumput sulit didapatkan dan harga susu pun relatif murah," keluh Hardi, Jumat (3/8) sore. Jika sudah seperti ini, imbuh Hardi, peternak sapi perah biasanya hanya bisa pasrah seraya menunggu hujan tiba dan rumput gajah dan rumput kalanjana kembali tumbuh untuk pakan ternaknya. Sehingga, kerugiannya tidak tambah banyak.

"Saat seperti ini serba susah, cari rumput susah, terkadang harus membeli rumput juga sementara harga susu malah murah. Namun bagi kami tidak ada jalan lain kecuali memerah susu dan menjualnya untuk menutup kebutuhan," jelasnya. Bagio juga merasakan hal serupa. Dia menandaskan, kemarau ini adalah waktu yang sulit bagi peternak sapi perah karena disamping sulit mencari rumput, juga harga susu pun murah. "Ya mau apalagi, bagi rakyat kecil ya harus menerima saja. Semoga saja cepat turun hujan dan harga susu bisa kembali naik," harapnya.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Intimidasi di Sekolah Hingga Tempat Kerja

Betapa kagetnya Shafa Kamila, 35, melihat akun Facebook miliknya. Sebuah foto kertas kuliah dengan nilai jelek di-posting salah seorang mahasiswa yang tak puas dengan nilai yang diberikan dosen di salah satu perguruan tinggi di Bandung itu.


Namun, yang justru membuat sedih dan kecewa ialah tindakan mahasiswanya yang mem-bully dia di media sosial. Gambar tersebut memancing beragam komentar - komentar negatif berisi cacian dan makian yang tidak sepantasnya dilontarkan kepada sosok seorang dosen.

"Saya bisa membedakan mana yang sekadar posting dan mana yang memang mengarah orang untuk berkomentar negatif terhadap saya. Seharusnya segala sesuatu bisa dibicarakan baik - baik, bukan justru dilontarkan ke media sosial yang orang tak berkepentingan pun bisa turut berkomentar. Saya begitu sedih," ungkap Shafa, pertengahan pekan ini.

Sebagai dosen yang juga pemerhati media sosial, Shafa sering memberikan pelatihan internet sehat dan cerdas ke sejumlah lembaga. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akhirnya menjadi salah satu korban cyberbulliying tersebut. Shafa lantas melaporkan kejadian tersebut ke pihak yang berwenang, dalam hal ini universitas tempatnya mengajar. Berselang 10 hari setelah kejadian, mahasiswa itupun meminta maaf kepada Shafa.

Shafa merasa dirinya terhina dan dilecehkan, bahkan tidak nyaman untuk kembali mengajar di kampus, ia yakin tindakan Bullying itu dipicu masalah pribadi dirinya dengan sang mahasiswa. Tindakan Bullying di media sosial yang dilakukan mahasiswanya itu akibat ketidaktahuan mahasiswa akan etika berkomunikasi. Mahasiswa itu juga tidak paham bahwa media sosial merupakan portofolio diri yang memiliki konsekuensi tersendiri jika disalahgunakan.

Shafa berharap pelatihan penggunaan internet sehat dan cerdas bisa intensif diberikan di berbagai lembaga pendidikan. Upaya tersebut penting untuk mengantisipasi kemungkinan aksi Cyberbullying yang semakin terbuka lebar seiring dengan penetrasi internet di kalangan masyarakat.

Ia menegaskan Cyberbullying memang tidak berujung pada kekerasan fisik. Namun, aksi itu berpotensi menjadi permasalahan serius bagi kejiwaan korban. Jika media sosial tidak dipahami secara baik oleh pemakainya, masalah Cyberbullying akan menjadi mata rantai masalah yang tidak pernah putus.

"Ini bukan hanya soal menindak dan memaafkan. Tapi, bagaimana lembaga menyadari bullying adalah masalah bersama sehingga mengeluarkan kebijakan untuk mengedukasi anak - anak muda kita yang lekat dengan internet. Kita memang tidak bisa mengontrol orang membicarakan kita di belakang, tapi bisa mengontrol hal baik di media sosial," harapnya.

Jika aksi Bullying di media sosial alias Cyberbullying terbilang sebagai masalah baru, aksi serupa di sekolah masih menjadi borok di dunia pendidikan. Ketika aksi Bullying fisik dan verbal itu telah memakan korban, orang tua punya peran besar untuk menghentikannya.

Upaya itu sesungguhnya tidak hanya menyelamatkan anak yang menjadi korban, tetapi juga memutus siklus kekerasan, penanda kultur bullying yang hidup di sebuah komunitas, terutama lembaga pendidikan.

Pengalaman Bullying oleh kakak kelas saat masa orientasi sekolah (MOS) SMA mendorong Merika Prisilia, 21, aktif mengkampanyekan anti-bullying lewat komunitas Do Something Indonesia. Ia bersama teman - teman sesama korban membuka website yang mengakomodasi cerita para korban bullying.

"Bulliying bisa berdampak buruk bagi fisik maupun kejiwaan, hingga kasus bunuh diri, sehingga hal ini jadi masalah serius. Sampai saat ini, bullying pun masih kerap dilakukan anak - anak di berbagai sekolah. Kami juga akan mengadakan kampanye untuk menjadikan sekolah sebagai Bully Free Zone," kata Merika.

Aplikasi Bagi Pecandu Kopi dan Alkohol

Aroma secangkir kopi panas selalu menggoda siapa saja untuk menyeruputnya. Minuman berwarna hitam itu menjadi teman sempurna menemani waktu bersantai. Tak bisa dipungkiri, di balik beragam kandungan manfaatnya, kopi juga mengantongi efek samping bila dikonsumsi berlebihan, terutama jantung. Lewat gadget, para pecinta kopi kini bisa menikmati minuman berkafein itu dengan lebih bijaksana.


Ada sejumlah aplikasi untuk membantu pecandu kopi mengatasi masalah mereka. Salah satunya Cafeine Zone 2 Lite, yakni aplikasi Iphone yang mampu memantau, memprediksi dan menampilkan tingkat kafein pengguna secara real-time berdasarkan model farmakokinetik (penyerapan, distribusi, perubahan, kimiawi, penyimpanan dan penghapusan obat dalam tubuh).

Aplikasi itu diciptakan oleh Dr Frank E Ritter dan Dr Kuo Chuan Yeh, profesor dari Information Sciences and Technology, Pennsylvania State University, Amerika Serikat. Aplikasi itu akan menghasilkan sebuah garis tabel yang menggambarkan perkiraan tingkat kafein yang bisa dikonsumsi untuk 24 jam berikutnya.

Tingkat dimana kafein diserap di metabolisme dan dipecah oleh tubuh (farmakokinetik) yang sangat dipahami dengan baik. Namun nilai - nilainya memang bervariasi untuk setiap individu, bergantung pada ukuran, fungsi hati dan usia.

Untuk mengetahui batas - batas zona itu, Frank E Ritter dan Khuo Chuan Yeh melakukan studi. Mereka menemukan bahwa antara 200 dan 400 miligram (mg) kafein dalam alirean darah anda menyediakan kewaspadaan mental yang optimal, dan dibawah 100 mg kafein sangat ideal untuk tidur.

Adapun menurut Organisasi Kopi Internasional, untuk kopi panggang, jumlah rata - rata kafein yang terkandung dalam cangkir standar sebesar 80 - 115 mg, bergantung pada apakah anda menggunakan metode tetes atau cerek penapis. Untuk kopi instan, jumlah rata - rata kafein per cangkir ialah 65 mg. Minuman soda memiliki 20 - 30 mg kafein, dan secangkir teh memiliki 40 - 120 mg.

Caranya, setiap kali akan mengkonsumsi segelas kopi, anda cukup menekan tombol Consume Caffeine pada menu aplikasi, kemudian pilih racun anda, (teh/kopi/permen/soda/lainnya) dan plot aplikasi grafik tingkat kafein anda.

Aplikasi ini akan menunjukkan zona aktif kognitif, yakni daerah tingkat kafein ketika pengguna akan merasa aktif dan zona tidur, daerah tingkat kafein saat orang akan dapat tidur. Nantinya akan muncul sebuah tanda berwarna hijau yang merupakan 'zona kafein', area aman kafein yang coba anda tuju. Adapun tanda biru menunjukkan tingkat yang anda butuhkan untuk turun di tingkat bawah sebelum waktu tidur . Idealnya, anda minum secangkir besar kopi atau teh di pagi hari dan kemudian secangkir kecil lagi sepanjang hari.

Aplikasi ini juga akan memberikan peringatan berupa getaran (buzz) jika anda akan mengkonsumsi sesuatu yang akan membuat anda berada diatas ambang batas tidur (secara umum, ini berarti anda tidak harus minum secangkir besar teh atau kopi setelah tengah hari). Jika anda telah membangun ketahan terhadap kafein, akan memberi pengaruh baik termasuk tidur anda akan lebih optimal dan tubuh menjadi lebih baik. Selain kopi, aplikasi ini juga mengukur konsumsi makanan dan minuman lainnya seperti soda, teh dan permen. Jadi anda bisa mengukur berlebihan atau tidak tibngkat kafein yang anda konsumsi.

Tak hanya di Iphone, aplikasi sejenisnya juga muncul di Android, yakni, Caffeine Tracker, yang juga ,mampu melacak tingkat konsumsi kafein anda. Aplikasi itu akan merekam kadar kafein setiap minuman yang anda konsumsi dari waktu ke waktu. Sayangnya, aplikasi ini tidak menunjukkan level aman dan bahaya, dari total kafein yang anda minum.

Kamis, 02 Agustus 2012

Wanita 72 Tahun Pun Masih Cari Jodoh

Banyak orang bingung memilih jodoh karena saking banyaknya pilihan. Namun tak sedikit pula yang sulit mencari jodoh karena tak ada pilihan. Itulah kenyataan hidup manusia. Untuk membantu mencarikan orang - orang yang sulit jodoh, seorang pria di Semarang bernama Satrio rela membentuk biro jodoh. Apa saja kisahnya?


Jodoh di tangan Tuhan. Manusia hanya wajib berusaha dan berdoa. Itulah prinsip yang dibangun Satrio, koordinator kontak jodoh "Mutiara Kasih" Semarang. Merasa prihatin dengan orang - orang sulit mendapat jodoh, ia pun merintis lembaga sosial kontak jodoh. Sudah banyak orang menikmati jasanya yang dirintis sejak 27 tahun silam itu.

Ditemui di rumahnya Jalan Wonosari I/7 Kelurahan Randusari Kecamatan Semarang Selatan, Satrio tengah sibuk menata dokumen. Dokumen data - data anggota biro jodoh Mutiara Kasih itu dikelolanya sejak tahun 1985. Tumpukan dokumen yang dilengkapi pas foto 4 x 6 ini rencananya akan diperbanyak. "Data ini akan saya kopi, intuk persiapan temu kontak jodoh yang akan dilaksanakan pekan depan di Resto Ayam Ayam," kata Satrio.

Menurut Satrio, pendataan anggota ini sangat penting karena antar anggota belum saling kenal. Cukup dengan melihat data ini, maka yang berminat langsung menghubungi sendiri pada yang bersangkutan. Misalnya, ada duda yang ingin menjadi anggota. Setelah membayar uang pangkal Rp 200 ribu, boleh melihat data - data anggota biro jodoh dari kalangan perempuan.

"Saat ini saya mengelola 500 anggota biro jodoh yang memiliki data lengkap, seperti biodata singkat, pekerjaan, status marital, alamat, nomor telepon hingga foto diri, bagi anggota boleh melihat," terangnya. Dulu saat pertama kali didirikan pada tahun 1985, anggotanya masih terbatas. Hanya kalangan gereja. Rupanya usaha ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat luas. Sehingga mantan anggota Kamra itu memutuskan membuka lebar - lebar bagi semua kalangan untuk ikut ambil bagian dalam biro jodoh.

"Pada tahun 1995 dibuka untuk semua kalangan, uang pendaftaran saat itu cuma Rp 25.000," katanya. Sejak itu jumlah anggota makin banyak. Tidak hanya dari kalangan gereja namun ada yang beragama Islam, Hindu, Budha dan lainnya. Apa yang membuatnya terjun ke dunia perjodohan? Satrio mengaku, didasari oleh keluhan dari sejumlah rekan satu gereja yang mengaku kesulitan atau belum mendapatkan jodoh.

Mereka kebanyakan tidak kunjung mendapat jodoh karena malu, tidak percaya diri, terlalu sibuk bekerja atau takut tertipu. "Kan kadang ada orang yang sibuk bekerja mengejar karier, tahu - tahu umurnya sudah tua, sehingga saat mau mencari jodoh kesulitan. Akhirnya masuk biro jodoh, ya kita bantu mendapatkan orang yang diinginkan," ujar Satrio.

Menurut dia urusan jodoh memang susah - susah gampang. Artinya ada orang yang gampang mendapatkan jodoh, ada juga yang susah setengah mati mendapatkan Soulmatenya. Justru ini adalah tantangan tersendiri bagi biro jodoh. Bagaimana bisa mempertemukan mereka lalu kenalan terus pacaran dan berlanjut ke jenjang pernikahan.

Sejak tahun 1985, Satrio mengaku sudah banyak mempertemukan pasangan untuk berjodoh. Tidak hanya jejaka atau perawan. Yang janda atau duda juga banyak yang dibantu untuk menemukan kembali pasangan hidupnya. Satrio juga seolah tidak percaya. Ada anggotanya yang sudah berusia 72 tahun masih mencari jodoh. Anggota perempuan itu berasal dari Semarang. Dulunya memang cantik, namun dengan usia senjanya sekarang sudah tidak nampak lagi.

"Anggota saya ada yang sudah berusia 72 tahun, dia perempuan dan optimis masih akan mendapatkan jodoh," tuturnya. Satrio juga tidak tahu, kenapa hingga usia senjanya anggota tersebut belum mendapatkan jodoh," katanya. "Tapi kalau Tuhan menghendaki pasti akan ketemu jodohnya," harapnya.

Tidak hanya yang tua. Anggotanya juga ada yang berusia dini, 18 tahun. Anak - anak gadis belia itu mengaku sudah siap menikah. "Anggota saya saat ini mulai usia 19 sampai 72 tahun, beragam profesi, dari semua kalangan ada, tinggal pilih saja," terangnya. (Alamat: Bp. Satrio, Jalan Wonosari I/7 Kelurahan Randusari Kecamatan Semarang Selatan, Hp 081225271599).

Rabu, 01 Agustus 2012

Para Petani Tidak Mau Menanam Kedelai

Kalangan petani di Wonogiri enggan menanam kedelai karena hasilnya dianggap kurang menguntungkan dibanding tanaman palawija lainnya. Akibatnya, dari tahun - ke tahun lahan kedelai cenderung mengalami penurunan.


Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Dipertan dan Holtikultura Wonogiri Ir Sutardi MMA, Selasa (31/7) menjelaskan kecilnya angka produksi kedelai di Wonogiri dari total areal 3.584 hektare rata - rata hanya 1,27 ton/hektare. Hal itu menyebabkan kebutuhan bahan baku tahu tempe bergantung kedelai impor.

"Seandainya produksi kedelai kita surplus, kondisinya pasti tidak seperti sekarang ini. Krisis kedelai sebagai bahan baku tahu tempe tidak akan terjadi," jelas Sutardi. Sutardi menambahkan, angka produksi kedelai nasional 2 ton/hektare, sedangkan di Wonogiri hanya 1,27 ton/hektare. Sekitar 85% perajin tahu tempe Wonogiri masih mengandalkan bahan baku kedelai impor. Data di Disperindagkop UMKM sempat menyebutkan jumlah perajin tempe 3.616 KK, sedang perajin tahu 299 KK.

Sumber KR di Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkpti) Wonogiri yang ditemui secara terpisah mengungkapkan, panen kedelai lokal hanya mencukupi kebutuhan 1-2 bulan produksi bagi sekitar 10-15 persen perajin tahu tempe. Di Sukoharjo, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) sempat turun tangan membantu kesulitan perajin tahu tempe dengan mencari pasokan kedelai. Salah satunya dari petani di Gunungkidul, DIY.

Kepala Disperindag Sukoharjo, Sriyono kepada wartawan, Selasa (31/7) menjelaskan pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan Pemkab Gunungkidul terkait pemenuhan kedelai bagi perajin tahu tempe di Sukoharjo. Pilihan mencari pasokan kedelai dari Gunungkidul karena daerah tersebut memiliki lahan sekitar 40.000 hektare yang ditanami kedelai. Sebagian petani sudah siap memanen tanaman kedelai.

Hasil panen itulah yang nantinya akan dibeli oleh Disperindag Sukoharjo, selanjutnya ditampung untuk memenuhi kebutuhan perajin tahu tempe. "Sifatnya kerja sama langsung antara Pemkab Sukoharjo dengan Pemkab Gunungkidul agar hasil panen kedelai bisa disalurkan ke perajin tahu tempe di Sukoharjo," ujar Sriyono. Disperindag Sukoharjo menilai hasil panen kedelai petani Gunungkidul kualitasnya cukup baik.

 

DEWASA Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger