Warung Bebas

Rabu, 13 Juni 2012

Penumpang Teriak, Sopir Panik, Mobil Masuk Jurang

Hadi Nahrowi (49) sopir mobil Daihatsu Hijet 1000 yang menewaskan sembilan warga Dukuh Karangturi, Desa Turus, Kecamatan Kemiri, Purworejo, tak bisa menyembunyikan raut sedihnya. Tak hanya duka, ia juga memendam rasa sakit karena tulang bahu kirinya patah dan paru - parunya juga terluka akibat dadanya terbentur kemudi mobil saat kendaraannya terjun ke jurang.


Dari sembilan korban tewas, dua diantaranya merupakan orang - orang yang paling disayanginya, yakni Barsi (50) istrinya, dan Ny Besar (70) ibu kandungnya. "Saya hanya bisa pasrah atas musibah ini. Saya serahkan semua cobaan ini kepada Allah. Saya juga pasrah jika nantinya harus ditetapkan sebagai tersangka," ujarnya lirih saat dirawat RSUD Saras Husada Purworejo, Selasa (12/6).

Dengan menahan sakit, ia menuturkan kisah awal terjadinya musibah tersebut. Ia mengaku tidak memiliki firasat apapun sebelum kejadian. Mobil Hijet tahun 1984 miliknya yang baru dibeli setahun lalu dari saudaranya seharga Rp 10 juta juga dalam keadaan normal. Malam sebelumnya mobil bahkan digunakan mengangkut warga ke Desa Girimulyo, Kemiri, untuk acara Kliwonan dan tidak mengalami masalah sedikit pun.

Saat hendak berangkat ke Kantor Kecamatan Kemiri untuk rekam data E-KTP semula penumpang hanya 10, namun bertambah tujuh hingga jumlah penumpang 17 termasuk sopir. Kendaraan juga nampak normal - normal saja. Namun kendaraan baru beberapa meter setelah melewati balai desa di tengah - tengah jalanan menurun, tiba - tiba rem blong. Kendaraan pun sulit dikendalikan dan melaju kencang apalagi semua penumpang menjerit ketakutan minta tolong. Ia mengaku semakin panik. Saking paniknya hingga ia tak mampu lagi berpikir.

"Saat mobil meluncur kencang ke bawah, tepat di tengah - tengah turunan rem saya injak sudah blong tidak makan. Waktu itu masuk gigi dua, niat saya mau dioper ke gigi satu. Namun tidak sampai dioper mobil sudah terjun ke jurang. Saya sampai kehabisan akal. Kendaraan sudah sulit dikendalikan," ujarnya.

Hadi mengaku, saat mengendarai mobil ia sudah menguasainya benar. Ia juga sudah memiliki SIM. Hanya saat terjadi kecelakaan, SIM tidak dibawa.

Warga Tahlilan Bareng

Kecelakaan tragis mobil Hijet 1000 yang masuk ke jurang dan menewaskan sembilan orang membuat suasana Desa Turus, Kecamatan Kemiri, Purworejo, Selasa (12/6) masih diselimuti duka. Semua korban sudah dimakamkan, sedangkan delapan korban lain hingga kemarin masih dirawat di RSUD Saras Husada Purworejo.

Kepala Desa Turus, Rohani didampingi Sekretaris Desa Purnomo, di sela - sela pemakaman korban Sumarmi menjelaskan, Pemerintah Desa Turus menyelenggarakan acara tahlilan bersama selama tujuh hari berturut - turut dan dipusatkan menjadi satu di masjid desa. "Karena waktunya tidak cukup bila acara tahlilan digelar satu persatu. Akhirnya disepakati dan demi kemaslahatan dilaksanakan di satu tempat, yakni di masjid desa," imbuhnya.

Purnomo menjelaskan, kecelakaan tragis itu menjadi duka yang mendalam bagi warga di desa dengan jumlah penduduk 460 KK itu. "Rasanya kami masih belum percaya dengan adanya musibah yang menyebabkan sembilan warga kami meninggal dunia bersamaan karena kecelakaan yang lokasinya di desa sendiri," ujarnya.

Sementara itu, Polda Jateng menerjunkan tim Traffic Accident Analyst (TAA) untuk menyelidiki secara lebih detail terjadinya musibah tersebut, Selasa (12/6). Tim TAA Polda dipimpin Kasi Laka Ditlantas Polda Jateng Kompol Nicholas Dedy.

Di lokasi kejadian, tim melakukan proses fotogrametri atau pemetaan, dengan cara mengumpulkan sejumlah referensi termasuk pengukuran teretris. Mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga pengukuran batas tanah di sekitar lokasi kejadian.

Dengan peralatan sangat lengkap, tim secara detail mempelajari kronologis insiden kecelakaan bahkan mulai titik nol keberangkatan mobil Daihatsu Hijet 1000 bernopol AA 8693 DC dari rumah Hadi Nahrowi hingga titik kecelakaan. Hasil pengukuran dan referensi foto yang diambil di lapangan akan digunakan untuk proses penyidikan lebih lanjut.

"Hingga saat ini kasus ini masih dalam proses penyidikan. Jadi saya tidak bisa memberikan penjelasan banyak. Saya hanya bisa menyebutkan apa yang kami lakukan disini sebagai proses fotogrameteri," jelas Kompol Nicholas Dedy.

Kasat Lantas Polres Purworejo AKP Sutoyo SH saat didampingi tim TAA Polda Jateng menyebutkan, hingga kini pihaknya belum menetapkan sang sopir mobil Daihatsu Hijet 1000 sebagai tersangkanya dalam kasus kecelakaan tunggal itu. "Sejauh ini kami masih terus melakukan proses penyelidikan. Selain rem blong, kapasitas mobil yang seharusnya maksimal diisi delapan orang, namun saat kejadian terisi 17 orang juga bisa menjadi faktor penyebab lain. Semua masih diselidiki bersama tim dari Polda Jateng," jelas Kasatlantas.

Sedangkan delapan korban yang masih menjalani perawatan di RSUD Saras Husada Purworejo akan mendapatkan biaya pengobatan dan perawatan gratis. Para korban memang berhak mendapatkan pelayanan gratis karena mereka berniat menyukseskan program pemerintah dalam pembuatan E-KTP.

Direktur RSUD Saras Husada, drg Gustanul Arifin Mkes mengatakan pihaknya akan mengupayakan pembebasan dari segala biaya perawatan dan pengobatan selama pasien korban kecelakaan di Desa Turus dirawat di RSUD Saras Husada.

Selasa, 12 Juni 2012

Wakil Bupati Memakai Sepatu Buatan Wage

Kemana mencari sepatu berbahan baku kulit asli langsung dari produsennya? Bagi warga Bandung dan sekitarnya, Cibaduyut menjadi rujukan. Nama desa di Kecamatan Bojongloa Bandung itu sudah lama tersohor sebagai sentra Industri Kecil Menengah (IKM) alas kaki.


"Tapi bila anda warga Purbalingga, cukup datang kemari. Anda bisa mendapat sepatu dan sandal dengan pilihan model yang beragam. Kalau belum puas, anda bisa memesan khusus," tutur Wage Suratman (35) pemiliki IKM Wage's Production Senin (11/6).

Warga Jalan Purwandaru RT 4 / RW 4 Desa Bukateja, Purbalingga itu menjamin, semua alas kaki yang diproduksinya 100 persen berbahan kulit. Di tempat usahanya, Desa Bukateja Purbalingga, Wage memproduksi bermacam - macam sepatu, sandal, sabuk dan jaket untuk pria maupun wanita.

Mulai merintis usahanya sejak 2006, Wage sudah kenyang mengalami jatuh bangun selama dua tahun pertama. Semangat keras dan pantang menyerah untuk membangun jaringan bisnis dengan berbagai kalangan, usahanya mulai berkembang sejak empat tahun terakhir.

Dengan bahan baku kulit sapi dan kambing yang didatangkan dari Magetan Jawa Timur, Wage memproduksi dengan merek Tiara, Berly dan Black Tower. Merek Tiara dan Berly diambil dari nama dua anaknya. Harga sepatu yang diproduksinya bervariasi, mulai harga termurah berkisar Rp 70 ribu - Rp 80 ribu (sepatu wanita) hingga Rp 350 ribu (sepatu pria).

Variasi harga tentu tergantung dari model. Sepatu pria berkisar Rp 180 ribu hingga Rp 230 ribu, tapi untuk model tertentu harganya mencapai Rp 350 ribu. Tak hanya sepatu, Wage's Production juga memproduksi sandal, sabuk dan jaket dengan harga bervariasi. Sandal wanita berkisar Rp 65 ribu hingga Rp 100 ribu, Sandal pria Rp 80 ribu, sabuk Rp 100 ribu dan jaket Rp 80 ribu. Wage juga melayani pesanan jaket seharga Rp 1 juta.

Saat ini, Wage melayani pembelian secara perorangan dengan datang langsung ke tempat usahanya, maupun melayani partai besar. Wage juga terus memperluas jaringan pasarnya, lewat berbagai pameran, baik di Purbalingga, Purwokerto, Semarang, Jakarta dan kota - kota besar lainnya.

Biasanya, menjelang tahun ajaran baru menjadi masa panen bagi Wage. Sejumlah sekolah mulai memesan, khususnya sepatu. Para pemesan partai besar itu, tidak hanya dari wilayah purbalingga saja, tetapi juga dari Purwokerto, Banjarnegara, Tegal dan sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.

Bahkan, pemesan dari Jambi dan Kalimantan rutin memesan sepatu bikinan Wage. Jajaran kepolisian pun juga memesan sepatu kepada Wage, diantaranya dari Polres Banyumas, Polres Banjarnegara dan Polres Purbalingga.

Bila pada hari - hari biasa Wage beserta karyawannya mampu memproduksi 900 pasang sepatu perbulannya, setiap memasuki tahun ajaran baru, Wage dan tujuh karyawannya harus ngebut menambah produksi hingga lima kali lipat. Kualitas sepatu bikinan Wage diakui oleh Wakil Bupati Purbalingga, Drs Sukento Ridho Marhaendrianto MM. Sepatu yang dikenakannya juga produksi Wage.

"Harganya tidak mahal, cuma Rp 200 ribu. Tapi saya senang memakainya, karena cocok dan bentuknya manis. Kualitasnya pun tidak kalah dengan sepatu buatan luar negeri," ujar Sukento.

Pasangan 'Gila' Keliling Dunia Dengan Motor

Sejak tiga tahun lalu, Maurizio Pasqui (50) meninggalkan kampung halamannya di Genoa, Italia, untuk berkeliling dunia dengan sepeda motor bersama istrinya, Shizuyo Inori (51). Pasangan itu hingga kini telah menempuh perjalanan 90.000 kilometer dan kini melintasi Indonesia.


"Indonesia adalah negara ke-23 yang kami kunjungi," ujar Maurizio saat mengunjungi Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat, Senin (11/6). Menurut Maurizio, sebenarnya ia tidak punya rencana untuk mengelilingi dunia. Awalnya ia merasa bosan menjalani hidup yang monoton. Ia jenuh bekerja sebagai mekanik dan kesehariannya diisi dengan menonton televisi atau menjelajah internet.

Ia mengutarakan keinginan untuk keliling dunia dengan motor pada Shizuyo, perempuan jepang yang ia nikahi pada 2006. "Istri saya langsung setuju. Rumah kami jual dan semua barang - barang dijual atau kami berikan ke orang lain, lalu saya membeli motor Honda Transalp bekas. Dengan bekal 20.000 dollar AS dan tanpa persiapan, kami memulai perjalanan keliling dunia pada Mei 2009," ungkap Maurizio.

Seperti suaminya, Shizuyo juga gemar bertualang. Shizuyo bertemu Maurizio di Compostela, Spanyol, pada 2005 dan menikah satu tahun kemudian. Shizuyo menuturkan, mereka ingin bertemu dan mengenal orang - orang dan beragam budaya di dunia. "Bagi kami mengunjungi berbagai destinasi wisata yang indah di dunia tidak penting. Di internet dan televisi kita bisa lihat semua tempat yang indah. Kami ingin bertatap muka, berinteraksi dengan dengan orang - orang dari berbagai bangsa di dunia," katanya.

Sebelum Indonesia, pasangan itu antara lain mengunjungi Spanyol, Portugal, Swiss, Austria, Slovenia, Makedonia, Kosovo, Bulgaria, Turki, Armenia, Georgia, Iran, Turkmenistan, Rusia, Korea, Jepang, Australia dan Timor Leste.

Di sela perjalanan, mereka sempat merampungkan buku yang mengisahkan petualangan mereka dari Italia hingga Jepang. Buku dalam bahasa Italia itu berjudul 'Due Ruote, Due Matti, Una Tenda' (Dua Roda, Dua Orang Gila, Satu Tenda).

Dalam perjalanan, mereka beberapa kali kehabisan uang. Mereka bekerja serabutan di negara setempat untuk mengumpulkan uang dan melanjutkan perjalanan. "Saat memasuki Australia, uang kami hanya tersisa 200 dollar. Saya bekerja sebagai mekanik, sopir, tukang kayu, tukang cat. Sedangkan istri saya memetik buah ceri dan sayuran, atau membuat perhiasan. Dalam empat bulan terkumpul 10.000 dollar AS," kata Maurizio yang pada 11 Juni kemarin merayakan ulang tahun ke-50.

Di motornya mereka membawa bekal pakaian, peralatan masak, bahan makanan, suku cadang motor dan tenda. Mereka biasanya tidur di tenda. Namun selama di Indonesia, mereka sering bermalam di rumah anggota komunitas motor. Di Yogya, mereka tidur di rumah Ketua Paguyuban Agen KR, Gunadi di Perumnas Condongcatur. "Indonesia luar biasa. Selama disini kami dapat sambutan hangat, ramah. Kami mendapat banyak sahabat baru terutama dari berbagai komunitas motor. Grazie, Indonesia!" katanya.

Maurizio mengaku tak tahu kapan akan menyelesaikan perjalanan keliling dunia. "Saya menjalani hidup mengalir saja. Saya tak membuat rencana apapun. Jadi tidak tahu apakah misi kami akan selesai atau tidak," pungkasnya.

Senin, 11 Juni 2012

Perjalanan Karir Sang Kapolres Adji Wibowo

Nazirwan Adji Wibowo resmi menjabat sebagai Kapolres Karanganyar sejak bulan November silam. Pria Berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) itu menggantikan pejabat lama, yakni AKBP Suroso.


Selama memimpin kepolisian Karanganyar, banyak gagasan yang telah ia terapkan. Salah satunya gerakan polisi berhati nurani. Selain itu, Adji pun mewajibkan anggotanya untuk menyematkan PIN anti-KKN di pakaian dinas setiap hari. Ditemui di rumah dinasnya beberapa waktu lalu, lulusan Akademi Kepolisian tahun 1994 tersebut bercerita banyak, termasuk hal yang melatarbelakangi dirinya menjadi seorang polisi.

Adji lahir dan besar di lingkungan keluarga militer. Itulah yang membuat dirinya terbiasa dengan didikan kedisiplinan dari ayah yang tentara. "Sejak kecil kami sekeluarga mendapat didikan yang cukup keras dari orang tua, terutama ayah. Kami tinggal di asrama militer," ujarnya mengawali perbincangan. Adji mengaku kerap mendapat hukuman dari ayahnya akibat sering berbuat nakal, layaknya anak sepantarannya. "Saat itu saya suka berkelahi. Apalagi saya ikut olahraga bela diri. Ayah yang mengetahui hal itu langsung menghukum saya," katanya sambil tertawa.

Pria yang dikenal dekat dengan para wartawan ini menuturkan, selepas dari SMA Negeri 1 Denpasar, ia mendaftar ke Akademi Militer dan dinyatakan diterima. Yang cukup unik, saat ujian tertulis pilihan utamanya adalah Angkatan Udara, sedangkan kepolisian adalah pilihan terakhir. "Awalnya saya tidak suka menjadi polisi. Tetapi pada saat seleksi, ternyata nilai saya unggul di pendidikan kepolisian. Akhirnya saya putuskan mengikuti pendidikan polisi," terangnya.

Setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun. Adji dilantik menjadi perwira. Ia juga tercatat sebagai peraih ranking tujuh lulusan terbaik di angkatannya. "Karena masuk sepuluh besar, kami diberikan kebebasan untuk memilih tempat tugas. Saya pilih Jawa Timur. Kenapa saya memilih daerah tersebut? Sebab, tantangan di Jawa Timur lebih besar. Tahun 1995 saya pertama kali tugas sebagai Serse di Polres Tuban," lanjutnya.

Tak berselang lama, Adji dipromosikan menjabat Kasat Serse Polres Lumajang. Pada tahun 1999, Adji ditarik ke Akpol sebagai Komandan Kompi dan Komandan Pleton para taruna. Tiga tahun setelah itu, ia mengikuti pendidikan lanjutan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta. Selepas dari PTIK ia pun mengikuti pendidikan di Jepang dan Italia, sebelum akhirnya belajar lagi di Sekolah Staff dan Pimpinan Kepolisian (Sespimpol). Karirnya terus menanjak hingga bulan November 2011, suami dari Nur Efrida ini diberi amanat sebagai Kapolres Karanganyar.

"Saya hanya ingin memberikan yang terbaik bagi institusi Polri. Polisi tidaklah seburuk seperti yang diduga selama ini. Tugas kami adalah melindungi dan mengayomi masyarakat," katanya.

Buku Terbaik Yang Layak Dibaca

Suatu hari seorang teman bertanya kepada saya melalui pesan singkat: "Buku apa yang bagus untuk dibaca dan bermanfaat?" Saya berpikir cukup lama untuk menjawab pertanyaan ini. Pikiran saya melayang ke deretan buku - buku yang ada di ruang perpustakaan mini di rumah saya.


Saya mencoba memikirkan buku - buku yang pernah saya baca dan menjadi koleksi terbaik di dalam ruangan kecil tempat harta ilmu pengetahuan saya tersimpan. Pikiran saya menari - nari di antara sederetan buku - buku bagus mulai dari tulisan Stephen Covey, Jack Canfield, Robin Sharma, John Maxwell, Napoleon Hill, Dale Carnegie, hingga buku - buku spiritual karya Anthony de Mello, Eknath Easwaran, Dalai Lama, Deepak Chopra dan Ajahn Brahm. Tidak ketinggalan juga buku - buku karya penulis nasional, seperti Jakob Oetama, Ir Ciputra, hingga Tung Desem Waringin.

Akhirnya saya menjawab singkat: "Buku yang terbaik adalah buku yang mengubahkan hidup kita". Ya, seringkali kita membaca buku bagus, best seller karya penulis terkenal, namun apa yang kita baca itu hanya berhenti di kepala. Menjadi sebatas pengetahuan saja. Maka apa yang sudah kita baca tersebut tidak banyak gunanya, selain memenuhi memori kepala kita.

Pengetahuan yang tidak diamalkan tidak ada manfaatnya. Kalimat ini mengandung arti, bahwa apapun yang menjadi pengetahuan sebaiknya bisa dipraktekkan atau diterapkan dalam kehidupan. Penulis - penulis hebat yang telah saya sebutkan tadi telah menuliskan segudang nasehat dan petuah hidup yang bisa membawa kita ke jenjang kehidupan yang lebih baik. Namun tidak cukup dengan hanya membacanya saja, kita perlu melakukan apa yang ditulis tersebut menjadi sebuah praktek nyata, hingga menjadi sebuah kebiasaan baru yang terbentuk atau bahkan menghilangkan kebiasaan lama yang buruk.

Dalam pengalaman, saya banyak melihat teman - teman yang 'senang' belajar. Mereka melahap semua pengetahuan yang ada, bahkan tidak hanya dari buku, juga dari berbagai seminar dan pelatihan yang bisa diikutinya. Berbagai sumber belajar dari media pun dikunyah habis. Namun banyak dari orang - orang ini memiliki kehidupan yang biasa - biasa saja. Orang - orang ini hanya menumpuk semua pengetahuan yang ada, tanpa pernah mempraktekkannya. Ia bisa menjawab semua persoalan secara literal dan kognitif, namun giliran praktek nyata orang - orang semacam ini biasanya akan mundur teratur.

Entah karena malas atau takut, banyak orang - orang yang ingin berkembang, namun tidak melakukan apa yang perlu dilakukan untuk berkembang. Tindakan nyata memang membutuhkan energi dan konsekuensi, dan tidak semua orang siap mengatasinya.

Nah, kembali pada urusan buku yang terbaik, sebenarnya semua buku pengembangan diri itu baik, asalkan ada minimal satu hal sederhana yang kita praktekkan dan terapkan dalam diri, sehingga akan mengubahkan hidup kita menjadi lebih baik. Hal ini membutuhkan sikap proaktif dari dalam diri kita sendiri. Buku bagus tidak akan mampu mengubah kita, namun hanya kemauan dan sikaplah yang akan membuat perbedaan dalam hidup.

Minggu, 10 Juni 2012

Suasana Kehidupan Di Kampung Pulo

Kampung ini berada di sebuah bukit kecil di tengah danau. Untuk menuju kesana harus menyeberang dengan menggunakan rakit bambu. Perjalanan air dengan rakit itu hanya membutuhkan waktu sekitar 7 menit.


Secara administrasi, Kampung Pulo berada di Desa Cangkuang, Garut, Jawa Barat. Oleh masyarakat sekitar, Kampung Pulo dianggap sebagai warisan sejarah sekaligus menjadi kampung adat. Penduduk yang kini tinggal di rumah - rumah yang berada di Kampung Pulo ialah keturunan Arif Muhammad, Panglima perang Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kehidupan mereka sangat harmonis dan sederhana dengan memegang nilai - nilai adat.

Nilai adat yang dimaksud ialah yang diajarkan Arif Muhammad, yang dianggap sebagai tokoh oleh masyarakat disana karena telah membangun kampung itu. Ia datang ke kampung itu, menurut cerita, karena keperluan untuk berdakwah agamanya, Islam. Dalam penuturan warga, penduduk asli Kampung Pulo sebelumnya beragama Hindu. Setelah berjalannya dakwah, sebagian memeluk agama Islam. Namun demikian, penduduk disana sejak dahulu hingga sekarang hidup rukun. Hal itu bisa dibuktikan dengan peninggalan budaya (benda) dan nilai - nilai kearifan yang terus dipelihara masyarakat Kampung Pulo.

"Meskipun sudah ada berabad - abad yang lalu, kearifan budaya di Kampung Pulo masih kami jaga dengan baik. Termasuk pantangan - pantangan juga konsisten kami terapkan dalam kehidupan sehari - hari," ujar seorang warga. Budaya dan adat istiadat di kampung itu yang terpelihara dengan baik diantaranya petilasan nenek moyang, upacara spiritual termasuk sykuran dan pembacaan wirid pada waktu tertentu serta pelestarian bangunan bersejarah disana.

Dalam mendirikan bangunan, misalnya, atap rumah tidak boleh berbentuk jure dihindari karena dahulu anak laki - laki Arif Muhammad saat akan di khitan diarak memakai jamapana (tandu) beratap jure. Saat diarak dan disambut alunan gamelan dan gong besar tiba - tiba terjadi bencana berupa angin besar yang membuat anak Arif terjatuh dari jampana kemudian meninggal.

Bercermin dari peristiwa itulah, saat setiap upacara adat penduduk Kampung Pulo tidak diperkenankan membunyikan gong besar. "Makanya kata leluhur kita disini, keturunan kula (saya) tidak boleh membangun rumah berbentuk jure dan memukul gong," ujar Tatang Sanjaya, keturunan ke sembilan Arif Muhammad.

Di tengah - tengah Kampung Pulo juga ditemukan rumah berjejer yang jumlahnya enam unit. Rumah adat tersebut terawat dengan baik. Ternyata ada kisah dibalik keberadaan bangunan itu. Jumlah rumah tersebut tidak boleh ditambah dan dikurangi. Alasannya, selain menyimbolkan enam anak perempuan Arif Muhammad, kearifan lainnya ialah merupakan simbol rukun Islam.

Penduduk Kampung Pulo taat dalam beragama dan menjadi pemelihara nilai - nilai Islam yang telah ditanamkan para pendahulu mereka. Lain halnya dengan ketidakberadaan hewan berkaki empat di Kampung Pulo. Dalam memelihara ternak, ternyata masyarakat disana juga mentaati aturan yang berlaku sejak generasi pertama mereka. Mereka tidak berani memelihara hewan berkaki empat yang besar di wilayah kampung adat.

Hal itu dimaksudkan untuk menjaga kebersihan Kampung Pulo karena disana banyak terdapat makam yang disucikan. "Selain itu dahulu para leluhur juga hanya hidup seadanya dari apa yang ada di wilayah kampung adat," ujar Tatang. Keunikan Kampung Pulo tersebut ternyata mengundang perhatian banyak wisatawan yang penasaran. Termasuk aturan atau tata cara berziarah yang mereka terapkan.

Masyarakat disana tidak diperkenankan datang berziarah pada Rabu. Waktu ziarah dimuali dari Selasa sore pukul 15.00 WIB hingga keesokan sore harinya kira - kira pukul 15.00 WIB juga. Larangan berziarah atau berkunjung ke kampung adat pada Rabu itu dimaknai karena dahulu Embah Dalem Arif Muhammad menggunakan waktu itu untuk berkonsentrasi mengajarkan agama Islam. Hari Rabu juga merupakan hari istirahat warga kampung adat saat itu.

"Sebagai penerusnya apa yang diajarkan oleh moyang kami itu kami jalankan sebaik - baiknya saat ini," tukas Tatang. "Hari Rabu itu kula (saya) tidak mau diganggu," begitulah leluhur kami mengajarkan. Sebagai kampung adat yang kental akan ajaran Islam yang diturunkan secara turun - temurun, berbagai ritual keagamaan juga dilaksanakan di Kampung Pulo. Ritual adat yang rutin dilakukan ialah melakukan syukuran menyambut datangnya bulan Maulud atau Rabiul Awal.

Memasuki tanggal 12 di bulan Maulud itu masyarakat melaksanakan syukuran besar - besaran. " Kita semua penduduk adat disini berkumpul bertawasul sambil membawa makanan di suatu tempat," terang Tatang. Selain ritual tersebut, pada tanggal 14 di bulan yang sama dilakukan upacara adat memandikan benda - benda pusaka seperti keris, batu aji dan peluru dari batu yang dianggap bermakna dan membawa berkah. Upacara memandikan benda keramat itu dilakukan pada tengah malam tepat pukul 12.00 WIB.

Ritual terakhir ialah melakukan tawasul membaca ayat - ayat suci Al - Quran pada penghujung bulan Maulud sekaligus pertanda berakhirnya dan melepas bulan Maulud. Meskipun masih konsisten menjalankan adat istiadat yang diwariskan moyangnya, Tatang Sanjaya mengaku merisaukan keberlangsungan nilai - nilai adatnya.

Menurutnya, semakin terlihat perubahan yang terjadi di kampung adat. "Misal, aturan tidak boleh menambah rumah adat dilanggar petugas Dinas Pariwisata yang menambahkan bangunan berupa pos penjagaan, museum, dan warung - warung penjual pernak - pernik wisata yang ada disini," pungkasnya.

Sabtu, 09 Juni 2012

Aplikasi Bagi Tunanetra Via Blindsquare & Lookaround

Blindsquare
Kini siapa saja semakin mudah mencapai lokasi manapun yang ingin dituju. Tak terkecuali penyandang tunanetra. Perkembangan teknologi memang sudah seharusnya bermanfaat untuk semua orang, tak terkecuali yang memiliki keterbatasan fisik.


Bayangkan, jika itu tidak dilakukan, puluhan juta penyandang tunanetra tidak punya kesempatan memanfaatkan teknologi yang mereka perlukan saat hendak bepergian. Kini kita semua bisa bergembira. Berkat Foursquare, saat ini lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia bisa dengan mudah bepergian. Teknologi Foursquare memanfaatkan jejaring sosial yang mengintegrasikan geotag, lokasi, Twitter dan Facebook menjadi satu.

Jutaan pengguna pun berhasil menciptakan beragam detail destinasi di berbagai wilayah di dunia. Hal itulah yang akhirnya menjadi inspirasi tersendiri dan terciptalah aplikasi baru yang dinamakan Blindsquare. Bukan sembarang aplikasi, Blindsquare bisa membantu penyandang tunanetra untuk beraktivitas lebih mudah, leluasa dan mandiri.

Aplikasi ini menggunakan dua juta data check-in dari para pengguna aplikasi Foursquare di seluruh dunia. Data - data yang diunggah itu pun mampu membantu para penyandang tunanetra berjalan kaki menjelajahi jalanan kota - kota besar. Itu juga membantu mereka saat memanfaatkan transportasi publik.

Kemanapun menavigasi tersebut didapat dari data integrasi Foursquare dan teknologi native suara dari Apple. Penggabungan tersebut pada akhirnya menciptakan teknologi virtual lokasi peta lewat suara. Setelah diaktifkan, aplikasi ini otomatis membaca alamat, nama jalan, berbagai wilayah, atau lokasi yang ada di sekitar pengguna berada.

Penunjuk arah tersedia berdasarkan permintaan. "Pada dasarnya aplikasi ini berbicara dan menggambarkan apa yang ada di sekitar anda. Jika anda ingin pergi ke suatu tempat, aplikasi ini bisa memandumu," ungkap IIkka Pirttimaa, kreator aplikasi Blindsquare. Saat bepergian dengan bus, misal, penyandang tunanetra biasanya tidak tahu akan berhenti dimana.

Namun dengan aplikasi itu, mereka bisa mendengar sekeliling mereka bahkan persimpangan jalan saat bus melewati atau berbelok. Aplikasi yang tersedia di Apple Itunes Store ini seharga US$ 14,99 (sekitar Rp 135 ribu). Teknologi ini bisa mengubah teks menjadi perkataan dengan device yang berbeda, tergantung pengembangan yang dilakukan developer.

Konsep aplikasi Blindsquare dan proses pembuatannya memakan waktu enam bulan. Pirttimaa mencampurkan teknologi GPS, sumber data lokasi dari para pengguna Foursquare, dan teknologi visual augmented reality dengan audio.

"Jika mereka (tunanetra) berada di wilayah yang mereka tidak tahu, Blindsquare akan membantu mereka dengan 'melukiskan' sebuah peta informasi jalan, persimpangan dan berbagai pelayanan di sekitar mereka," jelasnya. Blindsquare dirancang mampu menggambarkan peta informasi jalanan bahkan fasilitas di sekitar mereka.

Terdapat pula berbagai kategori informasi lokasi tambahan meliputi seni, hiburan, kampus, makanan (restoran), kawasan outdoor, perumahan, pusat perbelanjaan, hingga travel. Blindsquare akan melaporkan restoran dan kafe terfavorit. Aplikasi ini telah diujicoba kepada beberapa penyandang tunanetra di Finlandia, Amerika Serikat, dan Australia.

Lookaround
Aplikasi petunjuk arah bagi penyandang tunanetra, yang diberi nama Lookaround, juga dikembangkan oleh Google. Lookaround merupakan aplikasi yang dirancang khusus. Aplikasi seharga US$5 (sekitar Rp 45 ribu) ini bekerja dengan memberitahu pengguna point of interest (PoI) atau lokasi terdekat ditempat mereka berada. Caranya dengan menggoyang smartphone yang sedang digenggamnya.

Penggunaan Lookaround banyak memanfaatkan gerak tubuh. Untuk mendengarkan fungsi dari tiap 'tombol' seperti 'Lookaround', 'Nearest Cross Street', atau 'Nearest 5 Points of Interest', cukup sentuhkan jari di salah satu menu yang berada di bagian tengah layar. Setelah itu, smartphone akan menyampaikan kegunaan tiap tombol yang bisa diaktifkan dengan menahan tombol yang ingin dipilih. Ketika pengguna yang berpindah tempat ingin mendapatkan informasi keberadannya, smartphone digetarkan lagi.

Jika internet berjalan dengan maksimal, atau tempat pengguna berada dalam cakupan GPS, ia akan mendapatkan informasi bangunan yang ada di sekitar, seberang jalan atau lokasi terdekat seperti rumah makan, toko dan sejenisnya.

Peta Indonesia juga sudah bisa diakses dengan baik oleh Lookaround. Diluar dari urusan koneksi atau jangkauan GPS yang kurang baik, aplikasi yang dikembangkan Point the Way ini sudah cukup memuaskan penggunanya.

"Aplikasi ini adalah favorit saya karena membuat perjalanan penyandang tunanetra menjadi lebih mudah," ucap salah satu pengguna, seperti dilansir dalam situs play.google.com
 

DEWASA Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger