Warung Bebas

Rabu, 11 April 2012

Preman Masuk Bus, Sikat Uang Rp 7 Juta Milik Penumpang

Puluhan penumpang membelokkan paksa bus PO Gaya Putra Transport AD 1599 AF ke Mapolrestabes Semarang, Jalan Dr Sutomo, Selasa (10/4) sekitar pukul 12.00.

Polisi menginterogasi para penumpang bus  PO Gaya Putra Transport   
Tindakan nekat para penumpang itu dipicu raibnya uang Rp 7 juta dan handphone milik Agus Suparno (39), penumpang asal Karangpelem, Klaten. Penyebab lainnya, para penumpang juga merasa ditekan sekelompok preman yang memaksa membeli tiket dengan harga tinggi saat berada di tempat pemberangkatan di Pulo Gadung, Jakarta, Senin (9/4) malam.

Agus mengisahkan, bus jurusan Jakarta - Semarang - Solo itu berangkat dari Pulo Gadung sekitar pukul 21.00. Saat itu jumlah penumpang ada sekitar 25 orang. "Saya duduk di bangku tengah kemudian tertidur. Sekitar pukul 02.00, saat itu bus kira - kira sampai Cirebon, saya terbangun dan mendapati dompet dan handphone saya raib," ujar Agus, yang sehari - hari berjualan parabotan rumah tangga di Pekanbaru, Riau, itu.

Agus lalu memberi tahu penumpang lain yang berada di sekitarnya. Sejumlah penumpang lain ternyata juga mengeluhkan bila tas - tas mereka dibongkar dan diacak - acak oleh sekelompok pria yang diduga preman di dalam bus tersebut. Namun, menurut Agus, para penumpang lain mengaku ketakutan dan tak bisa berbuat banyak karena para pelakunya sekelompok pria berbadan kekar.

"Saya bingung karena dompet itu berisi uang Rp 7 juta, yang rencananya akan saya gunakan untuk biaya pengobatan bapak yang sedang dirawat di rumah sakit. Padahal, keperluan saya mudik dari Riau ke Solo hanya untuk mengantar uang itu," ujarnya dengan nada lemas.

Dia menjelaskan, setelah masuk ke wilayah Jateng, tepatnya Kabupaten Brebes, sejumlah penumpang baru berani protes kepada sopir bus, Sujud (43), dan kondekturnya, Widodo (46). Mereka meminta bus berhenti di kantor polisi terdekat, namun permintaan itu tak dipenuhi oleh sang sopir. Ketika bus masuk ke Kota Semarang, para penumpang akhirnya memaksa sopir untuk mengarahkan bus ke Mapolda Jateng, Jalan Pahlawan Semarang.

Namun, petugas dari Polda Jateng menyarankan para penumpang untuk membawa bus ke Mapolrestabes Semarang. Sesampainya di Mapolrestabes, seluruh penumpang diperiksa satu - persatu oleh petugas. Tas dan barang - barang para penumpang digeledah, namun tak membuahkan hasil.

Penumpang lain, Nedy Sugianto (25) mengatakan, para pelaku pencurian itu diduga bekerja sama dengan sopir dan kondektur bus. Menurutnya, dugaan itu muncul saat para kru bus membiarkan sekelompok preman masuk ke dalam bus saat berada di terminal Pulo Gadung.

"Para preman yang masuk ke dalam bus itu berbadan kekar. Tas saya juga diacak - acak, namun tak ada barang yang hilang. Kami heran kenapa mereka bisa seenaknya mondar - mandir di dalam bus saat bus sudah berangkat meninggalkan Jakarta," ujar warga asal Sampit, Kalimantan, itu.

Sementara itu, sopir bus, Sujud, mengaku tidak tahu menahu perihal raibnya uang penumpang dan keberadaan sekelompok pria yang diduga preman tersebut. "Orang yang diduga preman tersebut mungkin bisa saja calo," ujar Sujud. Lantaran tak menemukan cukup bukti atas dugaan kasus pencurian itu, polisi akhirnya memperbolehkan bus itu melanjutkan perjalanan.

Selasa, 10 April 2012

ABG Bawa Sabu Di Dalam Charger Handphone

Sindikat narkoba memperalat anak baru gede, OP, warga Wonokerso, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung. Bocah berusia 15 tahun itu disuruh mengantar charger handphone ke seseorang di Bandungan, Kabupaten Semarang. Padahal, isi charger itu narkoba jenis sabu - sabu.


Ditemui di Mapolres Semarang (Ungaran), senin (9/4), OP mengatakan, Senin pekan lalu, ia diminta oleh tetangganya, Nurkholis, untuk mengantarkan charger handphone kepada seseorang di Bandungan. OP menerima pekerjaan tersebut karena imbalan yang ditawarkan Nurkholis lumayan besar, yakni Rp. 150.000.

"Saya tidak tahu kalau isinya sabu - sabu. Saya hanya disuruh mengantarkan barang tersebut ke seseorang di Bandungan. Saya dijanjikan diberi imbalan RP. 150.000. Tapi saya baru diberi Rp. 10.000, katanya, sisanya dibayar setelah barangnya sampai ke pemesan," kata anak jebolan SMP itu.

OP berangkat ke Bandungan naik sepeda motor. Anak baru gede itu atau ABG itu dihentikan polisi berpakaian preman di Jalan Raya Sumowono - Boja atau tepatnya di depan Indomaret, Sumowono. Saat menggeledah OP, polisi menemukan sabu - sabu seberat 0,75 gram di charger. OP kemudian digelandang ke Polres Semarang.

Kasat Narkoba Polres Semarang, AKP Dwi Margono mengatakan, berdasar keterangan OP, polisi kemudian membekuk Nurkholis (40). Saat diperiksa, Nurkholis mengaku mendapatkan barang tersebut dari Taat Yulianto (35), warga Jetis, Gambasan, Selopanjang, Temanggung. Polisi pun langsung bergerak menangkap Taat dirumahnya.

"Dari Nurkholis kami menyita barang bukti sabu - sabu seberat 0,25 gram, alat penghisap dan pipet kaca untuk membakar sabu," katanya. Margono mengatakan, sebelumnya polisi sudah mendapat informasi tentang peredaran sabu - sabu di wilayah Kabupaten Semarang yang dipasok dari Temanggung.

Menurutnya, polisi sudah mengintai orang - orang yang dicurigai sebagai pemasok narkoba berbentuk kristal (mirip gula batu) itu. Polisi juga mendapat informasi bahwa peredaran narkoba itu melibatkan anak dibawah umur.

"Kami mendapat informasi kalau kurir yang disuruh mengantar sabu masih anak - anak. Setelah mendapatkan ciri - ciri si kurir tersebut, kami melakukan pengintaian selama dua minggu dan akhirnya kasusnya terungkap," ujarnya.

Menantang Maut Di Atas Tingginya Jembatan Bambu

Keuntungannya tidak sebesar dengan resiko yang mengintai jiwanya. Namun semua hampir dilakukan selama 40 tahun lantaran tidak ada jalan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tidak tahu sampai kapan profesi membahayakan itu akan dipertahankannya.


Itulah yang dilakukan Paidi (64) warga Dusun Putu RT 02 Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro Bantul. Lelaki legam itu bukan penderes kebanyakan. Ia menghubungkan pohon kelapa satu dengan lainnya menggunakan jembatan bambu. Semua dilakukan untuk menghemat waktu. Dengan pemasangan bambu penghubung tersebut penghematan waktu hingga 15 menit.

Dengan berjalan diatas tiga bambu yang terhubung di empat pohon kelapa, keselamatan jiwanya dipertaruhkan. Semua dilakukan dengan tujuan satu, demi sesuap nasi. Paidi kepada wartawan, senin (9/4) mengatakan sebenarnya dirinya berkeinginan punya pekerjaan lain tanpa resiko. Namun lelaki bercucu dua ini sadar akan usianya.

Kini setiap hari, suami juminten ini harus rela dua kali naik turun pohon kelapa untuk mengambil nira. Pekerjaan penuh resiko ini ia tempuh sejak tahun 1972. Ia cukup memanjat sekali dan tinggal berjalan lewat lonjoran bambu ke pohon lainnya. Caranya dengan meniti batangan bambu dengan seutas tampar sebagai pegangan.

Lelaki itu seolah berjalan diatas maut. "Bagaimana lagi, hanya ini yang bisa kami lakukan," jelasnya. Meski istrinya sempat melarang, namun hal itu tidak mampu meluluhkan semangatnya. Dijelaskan, dalam sehari hanya mampu mendulang untung Rp 20 ribu. "Sehari hanya menghasilkan dua kilogram gula, ketika dijual ke pasar hanya mengantongi uang Rp. 20 ribu".

Namun itu pun tidak lantas membuat Paidi luluh semangatnya. Dengan segala kekurangannya, lelaki renta itu terus berupaya kerja. Menurutnya, melihat kerjanya itu memang sering menimbulkan kekhawatiran. "Saya harus hati - hati karena ini sumber rezeki saya," ujarnya.

Kini, lelaki yang sebelumnya bekerja di PG Madukismo tersebut selepas Subuh segera memanjat pohon kelapa di belakang rumahnya. Sedangkan sore hari dilakukan pukul 15.00 WIB. Meskipun sudah renta, namun tidak ada tanda sebagai lelaki lemah. Ia harus melintas di atas bambu setinggi sekitar 25 meter.

Senin, 09 April 2012

5 Tahun Jadi TKI, Istri Selingkuh Dengan Pria Lain

Dibakar cemburu lantaran istrinya berselingkuh, Henry Suharno (32) asal Jalan Suryo No. 123 RT 1/IX Jagalan, Jebres, Solo gelap mata. Ia membacok pria idaman lain (PIL) istrinya. Pelaku nekat membabat korban Deki Arif Purnomo (38) warga Sumber Banjarsari, kemarin.


Pelaku curiga istrinya berselingkuh dengan pria lain saat dirinya bekerja sebagai TKI di Belanda selama lima tahun. Istrinya menghamburkan uang kirimannya bersama selingkuhannya. Kemarin, pelaku berniat mengantarkan kedua anaknya ke rumah mertua naik motor. Pelaku membawa sebilah golok yang diselipkan di pinggang.

Sampai di kawasan Ketelan, pelaku melihat istrinya naik mobil bersama korban. Pelaku tersulut emosinya, adu mulut pun pecah. Puncaknya, pelaku membabatkan goloknya mengenai kaki, punggung dan kening korban. Korban pun roboh mandi darah. Warga yang melihat kejadian itu segera mengamankan pelaku dan melarikan korban ke rumah sakit.

Kapolsekta Banjarsari Kompol Andika Bayu P menyatakan, pelaku dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dengan senjata tajam. "Motifnya cemburu buta. Meskipun Henry mengaku menjadi korban perselingkuhan dan sudah selayaknya menjadi suami harus marah tapi langkah yang diambilnya dengan menganiaya Deki dengan senjata tajam tetap diproses", Jelas Kapolsekta.

Pelaku mengaku bekerja di Belanda sejak Agustus tahun 2007. Ia tahun 2011 mencurigai gelagat istrinya mendua dengan pria lain. Kecurigaan terutama semenjak anaknya tidak lagi sekolah meskipun uang yang selama ini dikirim bahkan seharusnya bisa untuk membeli rumah justru dihambur - hamburkan atas permintaan Deki.

Pelaku mengaku khilaf dan gelap mata setelah mendengar pengakuan istrinya, pelaku akhirnya membuat perhitungan kepada pria ini. "Awalnya saya ditelpon oleh istri saya supaya mengantarkan kedua anak saya ke mertua. Tapi ditengah jalan saya melihat istri saya satu mobil dengan pria yang saya curigai sebagai selingkuhannya," jelas pelaku.

Wanita Berkerudung Me5um Di Toilet Umum

Suasana di pasar Argosari Wonosari mendadak gempar, Minggu (8/4) siang. Pasalnya, para pedagang menangkap basah pasangan selingkuh (demenan) yang berbuat me5um di toilet pasar tersebut.


Pasangan itu, Purwantini (24) wanita yang telah bersuami warga Winangun RT 03/07 Purwodadi Tepus, dan Suhardi (35) seorang bujang lapuk warga Pokak RT 10/05 Karangawen Girisubo. Para pedagang yang kesal dengan ulah keduanya sempat menghadiahi bogem mentah di wajah Suhardi, saat pasangan haram tersebut diarak menuju pos Satpam setempat. Alhasil, PIL (Pria Idaman Lain) Purwantini itu mengalami benjol - benjol di wajahnya.

Informasi menyebutkan, terbongkarnya aksi me5um ini bermula ketika salah seorang penjaga toilet pasar Argosari, Warsita (33), mencurigai gerak gerik pasangan selingkuh tersebut. Mengendus ada sesuatu yang tak beres, ia pun terus mengintai gerak - gerik keduanya. "Sebab sebelum masuk kamar mandi, mereka sudah bermesra - mesraan. Kecurigaan saya bertambah karena tidak hanya sekali keduanya masuk kamar mandi bersamaan," ungkap warga Bansari Wonosari ini.

Setelah pasangan itu kembali masuk kamar mandi, lanjut Warsita, ia segera melakukan pengecekan di sekitar kamar mandi. Kecurigaan Warsita semakin membuncah, pasalnya dari kelima kamar mandi yang ada, hanya satu yang terpakai. "Saat tak cek, yang dipakai hanya satu kamar mandi saja. Ketika menguping dari kamar mandi sebelah, saya mendengar suara r1nt1han wanita," terangnya saat dimintai keterangan petugas.

Setelah yakin keduanya sedang asyik bermasyuk ria alias me5um, Warsita pun segera mengunci gerbang kamar mandi dan memberitahukan hal ini kepada juragan kamar mandi. Sadar aksi mereka diketahui penjaga dan mereka dikunci di toilet, kedua pasangan me5um tersebut berusaha menyogok dengan imbalan sejumlah uang. Namun tawaran ini ditolak mentah - mentah oleh Warsita.

"Saat itu si lelaki berjanji akan memberikan seluruh uangnya, asal mereka dilepaskan. Tapi saya menolaknya dan mereka langsung saya bawa ke pos satpam," bebernya. Saat digiring ke pos satpam itulah, sejumlah pengunjung pasar yang kesal dengan perbuatan amoral keduanya langsung menghujani bogem mentah di wajah Suhardi.

Untuk mengantisipasi hal - hal yang tidak diinginkan, satpam pasar pun segera melaporkan hal ini ke Polres setempat. "Saat akan dibawa ke pos satpam, Suhardi sempat menjadi bulan - bulanan massa," imbuhnya. Ketika dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Gunung Kidul AKP Heru Muslimin SIK, membenarkan adanya kejadian tersebut. Memang keduanya diserahkan petugas keamanan pasar Argosari dan masyarakat ke Polres Gunung Kidul.

"Menurut pengakuan pihak wanita, ia sudah mempunyai suami, sementara pasangan selingkuhnya masih bujang. Hasil pemeriksaan itu nantinya akan dijadikan materi penting polisi untuk melakukan langkah - langkah lebih lanjut," pungkasnya.

Minggu, 08 April 2012

Siapakah Tokoh Eadweard J. Muybridge?

Eadweard J. Muybridge adalah seorang fotografer Inggris keturunan Belanda yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Amerika Serikat. Dia dikenal karena karya rintisannya menangkap gerakan hewan yang digunakan beberapa kamera untuk mengabadikan gerakan - gerakan yang indah, perangkat yang digunakan untuk memproyeksikan gambar bergerak tersebut masih bersifat pra-tanggal strip film fleksibel berlubang.


Muybridge lahir di Kingston upon Thames , Inggris pada tanggal 9 April 1830. Ia beremigrasi ke Amerika Serikat, tiba di San Francisco pada tahun 1855, di mana ia memulai karir sebagai agen penerbit dan penjual buku. Dia meninggalkan San Francisco pada akhir tahun 1850-an, dan setelah kecelakaan kereta pos di mana ia menerima cedera kepala berat, kembali ke Inggris selama beberapa tahun.

Sementara memulihkan diri ia kembali ke Inggris, ia mengambil dan memulai dunia fotografi secara serius antara tahun 1861 dan 1866, dimana ia belajar proses collodion basah.

Dia muncul kembali di San Francisco pada 1866 dan dengan cepat menjadi sukses dalam fotografi, dengan fokus terutama pada mata pelajaran arsitektur lansekap dan, meskipun kartu namanya juga diiklankan jasanya untuk potret. Foto-fotonya terjual oleh pengusaha fotografi berbagai Montgomery Street (terutama perusahaan dari Bradley & Rulofson ), jalan utama komersial San Fransisco, pada tahun - tahun tersebut.

Ia mengganti namanya beberapa kali di awal karir ke AS. Pertama ia mengubah forenames kepada setara Eduardo Spanyol Santiago, mungkin karena pengaruh Spanyol pada nama tempat California. Namanya muncul pertama kali Muggridge dan Muygridge (mungkin karena salah ejaan), dan Muybridge dari 1860-an.

Pada 1870-an ia mengubah nama depannya lagi untuk Eadweard, agar sesuai dengan ejaan Raja Edward ditampilkan pada alas dari batu penobatan Kingston yang kembali didirikan di Kingston pada tahun 1850. Namanya tetap Eadweard Muybridge untuk sisa karirnya. Namun, nisannya memiliki varian lebih lanjut, yaitu Eadweard Maybridge.

Dia menggunakan nama samaran Helios (dewa Yunani matahari) pada banyak foto-fotonya, dan juga sebagai nama studionya dan nama tengah anaknya.

Pada tahun 1872, mantan Gubernur California Leland Stanford , seorang pengusaha dan pemilik kuda, telah mengambil posisi pada pertanyaan populer yang diperdebatkan yaitu: Apakah keempat kaki kuda kuda menapak tanah pada saat yang sama selama berlari. Sampai saat ini, lukisan kebanyakan dari kuda pada kecepatan penuh menunjukkan kaki depan diperpanjang ke depan dan kaki belakang diperpanjang ke belakang. Stanford tidak memihak pernyataan ini, yang disebut "transit tidak didukung", dan membawanya pada dirinya sendiri untuk membuktikannya secara ilmiah. Stanford mencari Muybridge dan menyewanya untuk menjawab pertanyaan tadi.

Dalam studi kemudian Muybridge menggunakan serangkaian kamera besar yang pelat kaca yang digunakan ditempatkan di baris, masing-masing dipicu oleh thread sebagai kuda berlalu. Kemudian perangkat jarum jam digunakan. Gambar-gambar tersebut disalin dalam bentuk siluet ke disk dan dilihat dalam mesin disebut Zoopraxiscope . Hal ini sebenarnya menjadi tahap peralihan menuju gambar bergerak atau sinematografi.

Sabtu, 07 April 2012

Pesan Masyarakat Melalui Film Pendek

Gelak tawa sekitar 60 penonton di dalam ruang yang hanya disinari cahaya LCD Proyektor tidak terbendung ketika suara Karyo ( diperankan Teguh Prihantono ) dengan dialek khas Banyumasan mulai terdengar.


Dialek itu menjadi kekuatan tersendiri dan terkesan berbeda dengan dua film lain ( Osteoporosis Si Mbah dan My Sister Keeper ) yang membuat penonton di dalam gedung B1 ruang 106 Fakultas Bahasa dan Seni Unnes harus cermat menyimak setiap tulisan translate di setiap adegan.

Namun, bukan masalah dialek sebenarnya yang ingin disampaikan para sineas dadakan dalam pemutaran film pendek yang diadakan Laboratorium Teater dan Film 'Umar Ismail' Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes pada hari Minggu kemarin, melainkan lebih terkait isi atau kandungan pesan yang ingin disampaikan film itu.

Lepas dari segala kekurangan yang ditampilkan, film karya mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Unnes semester 4 itu berusaha mempromosikan pelayanan kesehatan yang sering menjadi kendala masyarakat menengah ke bawah.

Intinya, film yang diproduksi akhir tahun lalu itu ingin menyampaikan program Jampersal ( jaminan persalinan ) nyata ada dan perlu dimanfaatkan masyarakat karena gratis, sehingga mereka tidak perlu lagi bingung ketika dihadapkan persoalan keuangan, seperti disuguhkan 12 mahasiswa IKM FIK Unnes itu.

"Pesannya cukup sederhana dan ternyata belum diketahui masyarakat pada umumnya, terutama di pedesaan," kata Yunas Tri Palupi, sutrada film 'Keluarga Sukar' itu. Dia menambahkan, proses produksi hanya membutuhkan waktu sehari dan lokasi yang dipilih yakni di Desa Sidomukti, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen.

Meski sebagai tugas akhir semester pada Mata Kuliah Teknologi Pengembangan Media, dia bersama 11 rekannya berusaha memilih tema yang pantas dan belum diketahui masyarakat, khususnya di pedesaan. "Meski tugas kuliah dan baru pertama terjun di dunia film, kami ingin total membuat film yang bisa dinikmati dan ditonton masyarakat, tidak hanya untuk mahasiswa apalagi dosen," katanya.

Erni Nur Faizah ( pemeran bidan ) menyatakan, para pemeran film sebelum proses produksi harus mencari referensi baik contoh film, buku tentang kesehatan masyarakat, maupun diskusi dengan dosen pengampu, mereka juga harus menyisihkan uang saku sebesar Rp. 75.000 per mahasiswa untuk biaya produksi.

Hasilnya, film itu mampu memberi kesan pihak Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang dan terpilih menjadi film terbaik dalam pameran Gizi pada tahun lalu diantara 14 film pendek yang disodorkan IKM FIK Unnes. "Sesuai informasi DKK Semarang yang kami terima, ke depannya film itu akan dijadikan sebagai ajang promosi dan publikasi tentang pelayanan kesehatan masyarakat," jelasnya.

Terpilihnya film berdurasi 25 menit itu, kata Erni, menjadi spirit untuk terus berkarya dan menggali lebih jauh dalam memproduksi film yang dapat bermanfaat.
 

DEWASA Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger