Warung Bebas

Selasa, 06 Maret 2012

Hidup Sederhana: "Kenapa Tidak?"

Semburat surya mulai menyilaukan mata Nikmatul Tasriyah. Pagi itu, gadis manis (22 tahun) yang juga mahasiswi semester 4 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mengayuh sepedanya menuju kampusnya di daerah Gamping (3 km dari Wirobrajan, Yogyakarta)


Begitulah sekelumit gambaran kesederhanaan hidup mahasiswa di era modern. Ketika uang telah menjadi sesuatu yang harus ada untuk memenuhi segala kebutuhan, maka yang muncul adalah pemborosan. Mulai dari makan, bayar kos, beli bensin, jajan, dan bayar kuliah, semuanya harus diselesaikan dengan uang.

Di sisi lain, gambaran umum kehidupan mahasiswa di tengah masyarakat adalah mereka yang selalu mondar - mandir naik motor, senang hang out, menghamburkan uang untuk kesenangan dan nongkrong hingga larut malam. Lalu, masih adakah hidup sederhana di kalangan mahasiswa?

Mungkin hidup ala kadarnya adalah kata yang tepat untuk mengambarkan hidup sederhana. Ala kadarnya dalam artian seperlunya, sebab hidup sederhana bukan berarti miskin, pelit atau menyiksa diri sendiri dengan alibi "ngirit" melainkan bisa memilah - milah antara kebutuhan penting, kurang penting dan tidak penting. Justru dengan hidup sederhana kita kaya hati dan bisa berpikir jernih untuk melihat dunia sekitar secara jeli, termasuk memutuskan sesuatu yang baik dan buruk, perlu dan tidak perlu.

Hidup sederhana juga bisa menjadi sarana menahan nafsu untuk tidak tergiur hidup hedon atau glamour. Hidup sederhana bukan hanya fokus pada financial yang menjadi sorotan utama. Salah satu contohnya adalah Nikmatul Tasriyah yang setiap hari mengayuh sepeda menempuh jarak 10 km untuk menuntut ilmu bagi masa depan.

Harus diakui, mobilitas pelajar dan mahasiswa sedang menjadi sorotan. Hampir 90% mahasiswa mengendarai sepeda motor. Dengan demikian, asumsi yang muncul adalah orang tua mereka tergolong mampu. Kenyataan lainnya, banyak pula mahasiswa yang punya HP lebih dari satu, atau juga tergiur membeli busana model terbaru dan menikmati gaya hidup modern yang cenderung mengedepankan kesenangan.

Kendati demikian, tak semua mahasiswa seperti itu. Ada pula yang justru memilih bersepeda atau jalan kaki sebagaimana Nikmatul, mahasiswi yang ber IP cumloude 4,00 asli Banjarnegara. Kecuali kuliah ia juga bekerja sebagai guru privat beberapa siswa Sekolah Dasar, SMP, SMA serta beberapa Mahasiswa. Hasil keringat yang diperolehnya digunakan untuk membantu orang tua demi membayar kebutuhan hidup.

Senin, 05 Maret 2012

Belasan Siswa SMPN 4 Cepiring Kesurupan

Sepertinya "Mbah Parman" dan kawanan lelembutnya belum berkenan enyah dari SMP Negeri 4 Cepiring Kendal. Pasalnya, sabtu pagi, belasan siswanya kembali kesurupan. Kesurupan ini merupakan kali kedua yang menimpa SMP Negeri 4 Cepiring. Diduga, penunggu ghaib yang mengganggu para siswa tersebut masih sang penghuni pohon sirsak yaitu "Mbah Parman" dan kawanannya.


Hingga sabtu siang, sebanyak tujuh siswa yang mengalami kesurupan masih histeris dan tak sadarkan diri. Sementara belasan siswa yang sudah sembuh dan seluruh siswa lainnya dipulangkan untuk mengantisipasi bertambahnya korban.

Kesurupan masal tersebut terjadi lebih awal daripada hari sebelumnya yaitu sekitar pukul 09.00 WIB, saat jam istirahat berlangsung. Satu persatu siswa berteriak histeris dan tak sadarkan diri. Sejumlah siswa yang mengalami kesurupan langsung dibawa ke ruang guru, Mushola dan ruang UKS dengan cara dibopong, dipapah dan digendong. Korban kesurupan kebanyakan adalah siswa perempuan dan semua siswa yang kesurupan merupakan siswa kelas IX E yang dekat dengan tempat parkir dimana diduga sebagai sumbernya.

Salah seorang guru setempat bernama Adi Widodo mengatakan, sebagian besar siswa yang kesurupan adalah siswa korban kesurupan pada hari kamis lalu. Satu persatu siswa lemas dan ambruk kemudian berteriak histeris.

Hal senada dikatakan oleh salah seorang siswa bernama Khoirul (15), satu persatu temannya jatuh lemas dan tidak sadar. Kemudian mereka berteriak histeris dan berontak saat dibawa oleh para guru. Teman - temannya yang sadar usai kesurupan mengaku awalnya mual dan pusing, setelah itu tiba - tiba tidak sadarkan diri.

Para korban berontak sambil berteriak histeris. Sang demit juga sempat mengancam tidak bersedia keluar dari raga siswa yang dimasukinya jika pohon sirsak tidak dikembalikan. Pihak sekolah akhirnya memulangkan seluruh siswa lebih awal. Namun sebelum pulang, guru mengajak siswa membaca doa bersama di kelas masing - masing untuk mengantisipasi gangguan lanjutan. Selain karena gangguan penunggu pohon sirsak, diduga kondisi siswa yang tidak fit menjadi penyebab kesurupan.

Sabtu, 03 Maret 2012

Memantau Bumi 'Live' Dari Luar Angkasa Melalui Website

Perusahaan patungan antara Kanada, Rusia dan Inggris akan memungkinkan membuat video live keadaan luar angkasa untuk dikirim dan dapat dilihat dari Bumi menggunakan dua kamera yang dipasang di Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS).


Kamera kedirgantaraan resolusi menengah dan satu resolusi tinggi - sedang dirancang, dibangun dan diuji oleh RAL Space, sebuah perusahaan Inggris yang berbasis di Rutherford Appleton Laboratory (Oxford, Inggris).

Kamera itu akan dipasang di atas kapal Misi Soyuz Rusia oleh astronot di ISS pada akhir tahun ini berkat perjanjian yang disepakati dengan Roket Rusia dan Antariksa Perusahaan Energia dan Roscosmos, Badan Antariksa Federal Rusia.

Setelah dipasang, kamera akan mengirim video dan gambar keadaan diluar angkasa secara live ke stasiun tanah di sekitar planet yang kemudian akan ditampilkan pada website yang dibuat oleh UrtheCast (Vancouver BC, Kanada) - anak perusahaan dari Earth Video Camera. Website ini juga akan memungkinkan pengguna untuk melacak lokasi Stasiun Antariksa ketika melalui lokasi geografis tertentu.

Perusahaan yang terlibat percaya bahwa data gambar bisa memiliki kegunaan banyak potensi dalam pendidikan, serta aplikasi pemantauan lingkungan dan bencana.

Versi beta dari platform UrtheCast akan tersedia musim panas ini. Mereka yang tertarik dapat menjadi pelanggan beta dengan mendaftar di situs web perusahaan tersebut.

Mempelai Pria Minta Uang Kembalian

Bukan pesta meriah di pernikahan itu. Hanya suasana kesederhanaan yang terlihat. Bahkan, begitu sederhananya, ada peserta nikah yang hanya mengenakan kaus oblong dan sandal jepit.


Kesedaerhanaan itulah yang tergambar pada acara nikah massal di kaki Gunung Slamet, tepatnya di Dusun Kutabarang, Desa Bumisari, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga.

Ada 12 warga atau enam pasangan suami istri yang merupakan warga setempat, yang selama ini hidup bertahun - tahun tanpa ikatan resmi pernikahan. Mereka tampak antusias mengikuti nikah massal yang diadakan desa setempat. Sebenarnya ada 10 pasangan yang mendaftar, namun hanya 6 yang memenuhi syarat.

Keenam pasangan itu masing - masing Minarto Al Makim - Mistem, Mahirin - Kasri, Darto - Kastini, Prastio - Natalia, Narwin - Saomi dan Narwito - Eni Purwanti. Mereka yang selama ini hidup serba pas - pasan, menyambut baik inisiatif perangkat desa menggelar acara nikah massal.

Suasana tawa sempat muncul di acara yang digelar di rumah Qayim dusun setempat, Nahwani. "Mas kawine wis di wenehna apa durung?" (Mas kawin sudah diserahkan apa belum?) tanya kepala KUA Bojongsari, Mukhlis Abdillah yang berperan sebagai penghulu. "Durung" (Belum) jawab salah satu pengantin pria sembari menyodorkan uang Rp. 100.000 dari sakunya kepada pengantin perempuan.

"Mas kawine jujul ya, arep nggo tuku rokok koh" (Mas kawinnya kembali ya, mau buat beli rokok), celetuknya.

Ucapan spontan itu disambut gelak tawa para tamu yang hadir. Hal menarik lainnya, ada pula yang membayar mas kawin Rp. 10.000 dengan uang Rp. 50.000 dengan harapan uangnya kembali Rp. 40.000. Tentu saja keinginan tersebut ditolak. Ada pula anak dari salah satu pasangan yang menangis saat proses ijab kabul. Meskipun diwarnai suasana sederhana, namun prosesi ijab kabul berjalan lancar.

Sementara, Kepala Desa Bumisari, Suwignyo mengatakan, saat ini ada sekitar 50 pasangan yang hidup serumah tanpa ikatan pernikahan. Banyak diantara mereka yang sudah memiliki anak cucu.

"Jika sudah tercatat resmi, untuk mengurus apa - apa mudah. Mengurus KTP, KK, Jamkesmas dan pelayanan pemerintah lainnya juga mudah. Ke depan, kegiatan semacam ini akan kembali kami lakukan, agar desa ini bebas dari keluarga tidak resmi," ujar Suwignyo.

Cari Kerja, Imah Tertipu Kenalan Baru

Sembari membawa dua tas cangklong warna cokelat dan merah, Khuzaemah atau akrab dipanggil Imah (19), terlihat berlinang air mata ketika duduk di kursi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes, Semarang. Gadis yang sedang mencari pekerjaan ini mengaku ditipu oleh seorang pria dan wanita yang baru saja dikenalnya.


Imah yang tinggal bersama neneknya di Kaliwungu, Kendal ini juga sedang mencari temannya Ifa (19), pemilik tas merah yang dibawanya ke kantor polisi itu. Dia menceritakan, awalnya dia ditawari pekerjaan oleh temannya di perusahaan outsourching di Ngaliyan. "Saya sudah empat bulan nganggur setelah keluar kerja dari PT. Sami, sebuah perusahaan pembuat kabel," ujar gadis yang baru lulus SMA tersebut.

Lantas, dia mengajak Ifa, temannya yang juga pernah bekerja di PT. Sami, untuk melamar pekerjaan serupa. Mereka sepakat untuk berangkat sendiri - sendiri, lalu bertemu di depan perusahaan outsourching itu.

Sekitar pukul 07.30 WIB, Imah dan Ifa bertemu di depan perusahaan itu, tapi hingga dua jam berlalu, teman mereka yang menawari pekerjaan tidak juga datang. Tiba - tiba seorang pria dan wanita muda yang berboncengan sepeda motor menghampiri mereka. Si pria muda mengaku bernama Aris, sementara yang wanita mengaku bernama Ayu.

Saat itu, Ayu berpura - pura menanyakan keberadaan temannya pada Imah dan Ifa. "Setelah ngobrol agak lama, Ayu menawari kami untuk bekerja di sebuah perusahaan pembuatan karet pelindung handphone di Semarang dengan gaji Rp. 1,4 juta per bulan," ungkap Imah.

Dengan penuh semangat, Imah dan Ifa pun menerima tawaran itu. Oleh Ayu, keduanya diminta naik bus jurusan Plamongan lalu turun di depan Toko Lambat, di daerah Semarang Barat.

Sesampainya di depan Toko Lambat, keduanya ditemui oleh Aris. Oleh Aris, Imah dan Ifa diberi banyak 'Wejangan' sebelum diantarkan untuk wawancara. "Ia mengatakan, saat wawancara tidak boleh bawa barang berharga seperti perhiasan, HP, dompet dan bahkan tas," tuturnya.

Aris lalu memboncengkan Ifa, sedang Imah diminta menunggu di Toko Lambat. Sebelumnya, Arif meminta ifa menanggalkan perhiasan, yaitu kalung dan cincin emas, serta diminta memasukkan dompet dan HPnya ke dalam tas, lalu dititipkan Imah.

Tak lama berselang, Aris kembali lagi untuk menjemput Imah. Di tengah jalan, Aris terlihat bingung mencari tempat untuk menitipkan barang - barang berharga milik Imah. "Ia akhirnya meminta saya untuk memasukkan HP ke dalam jok motornya. Saya juga akhirnya menitipkan dompet, perhiasan dan HP di dalam jok itu," ujarnya.

Ketika hampir sampai di perempatan Kaligarang, Aris menghentikan motornya. Dia mengatakan, di lokasi itu ada pos polisi dan ada petugas yang akan menilang bila keduanya kedapatan tidak memakai helm. Aris pun meminta Imah turun lalu disuruh berjalan kaki menyeberang perempatan.

Namun setelah menyeberang perempatan, Imah tak melihat Aris. Imah sempat dua jam menunggu di tepi jalan, tapi ia akhirnya sadar bila Aris telah pergi dengan membawa barang - barang berharga di dalam jok kendaraan.

Jumat, 02 Maret 2012

Puluhan Buruh Rokok Kesurupan

Puluhan buruh rokok PT. Aroma Tobacco Indonesia (ATI) yang merupakan anak perusahaan PT. Nojorono Tobacco International (NTI) brak lingkar utara, Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kudus kemarin pagi kesurupan. Akibatnya, aktivitas pabrik terpaksa dihentikan dan para buruh lainnya dipulangkan lebih awal.


Para buruh yang kesurupan tersebut semuanya adalah perempuan. Selain para buruh tenaga giling dan bathil, terdapat pula dua satpam perempuan yang kesurupan. "Ya berteriak - teriak tak karuan seperti orang kesurupan lainnya mas", kata seorang buruh.

Menurut para buruh, kesurupan tersebut terjadi sejak pagi hari. Awalnya hanya beberapa orang saja yang kesurupan. Namun, gejala tersebut ternyata menular kepada buruh lainnya sehingga total yang mengalami kesurupan mencapai puluhan.

Banyak diantara para buruh yang kesurupan tersebut sempat lemas karena kehabisan tenaga. Mereka akhirnya dikeluarkan dari lingkungan pabrik untuk mendapatkan pertolongan.

Pihak pengelola pabrik sempat mendatangkan petugas medis dan satu unit ambulan. Selain itu, terlihat pula beberapa paranormal yang sengaja didatangkan untuk menangani kesurupan tersebut. Hanya sayangnya, pihak pabrik sama sekali tidak mengizinkan para awak media untuk masuk ke pabrik.

Terpisah, perwakilan manajemen perusahaan, Sugiyanto, yang ditemui dikantornya menyatakan, kejadian kesurupan ini sama sekali diluar kemampuan teknis perusahaan. Menurutnya, kejadian serupa telah terjadi beberapa kali sejak akhir tahun lalu.

"Sejak itu beberapa kali terjadi kejadian tersebut, tetapi jumlahnya tidak begitu banyak", paparnya.

Pada satu kejadian mungkin hanya ada satu atau dua orang saja yang mengalami kesurupan. Namun pada kejadian kemarin diperkirakan terdapat 25 orang yang kesurupan. Beberapa hari sebelumnya juga terjadi kejadian serupa, namun jumlahnya tidak lebih dari lima orang.

Kamis, 01 Maret 2012

Pulang Resepsi Sekeluarga Masuk Jurang

Nasib tragis dialami satu keluarga. Usai pulang mengikuti resepsi manten di Gedung Pertemuan Pasar Ikan Dangkel Parakan, sebuah mobil Pikap yang penumpangnya berjumlah delapan orang terjungkal masuk jurang sedalam 5 meter di tikungan Tloyo Traji Parakan.


Sialnya, satu keluarga yang semula bersenang - senang kumpul dengan familinya tersebut, justru mengalami kecelakaan usai kondangan.

Seperti diketahui, sudah menjadi kebiasaan keluarga di Temanggung, mobil pikap terbuka pun ditumpangi banyak orang. "Mobil kami isi dengan seluruh keluarga, yakni istri saya, bapak, ibu, keponakan dan adik saya. Saya waktu kejadian ingin menyalip laju truk yang lambat berjalan.

Tapi ketika sudah menyalip, tiba - tiba dari arah berlawanan (arah Barat), muncul sebuah minibus (PO Gayatri trayek jurusan Parakan - Magelang). Saya tak bisa menghindar dan pikap saya oleng kemudian masuk jurang," tutur Walgiono (45) sopir, warga Desa Rejosari, Kecamatan Ngadirejo.

Seluruh penumpang di bak belakang terlempar di semak - semak jurang kecil tersebut. Mobil pikap Suzuki bernopol AA 1811 TN hidungnya nyungsep di dasar jurang. Si sopir, Walgiono mengalami luka tetapi tidak parah. Justru korban paling parah dialami salah satu anak Walgiono yang masih duduk di bangku SD diduga patah tulang.

Karena kejadian siang hari, kontan kejadian ini mengundang perhatian pengendara dan warga. Para korban dievakuasi dari semak - semak jurang. Korban perempuan yang duduk di bangku bagian depan mobil, terjepit dan membutuhkan waktu lama untuk mengeluarkan anggota badannya.

Akibat proses evakuasi para korban yang lama ini, jalur lalu lintas Parakan - Sukorejo mengalami kemacetan cukup panjang. Seluruh korban akhirnya dilarikan ke RSK Ngesti Waluyo Parakan untuk mendapatkan pertolongan.

Walgiono dalam keterangannya kepada petugas Satlantas Polres Temanggung mengakui kalau dirinya berjalan cukup kencang ketika hendak menyalip truk di depannya. Tapi karena kurang perhitungan yang cermat, si sopir tidak bisa menguasai mobilnya dan malah bertabrakan dengan sebuah minibus yang datang dari arah berlawanan yang juga melaju sangat kencang.
 

DEWASA Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger